Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Provinsi Luwu Raya

Jalan Trans Sulaweesi Batas Lutra-Lutim Diblokade, Massa Tuntut Pemekaran Provinsi Luwu Raya

Massa membentangkan kain hitam panjang bertuliskan “Rakyat Tana Luwu Menagih Janji, Provinsi Luwu Raya Harga Mati”. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Andi Bunayya Nandini | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Andi Bunayya Nandini
LUWU RAYA - Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung di Jembatan Sungai Bunga Didi, Jalan Trans Sulawesi, Desa Bunga Didi, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (8/2/2026). Presidium Gerakan Perjuangan Provinsi Luwu Raya (GPPLR) kembali turun ke jalan menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya. 

Ringkasan Berita:
  • Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung di Jembatan Sungai Bunga Didi, Jalan Trans Sulawesi, Desa Bunga Didi, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (8/2/2026).
  • Dalam aksi itu, massa membentangkan kain hitam panjang bertuliskan “Rakyat Tana Luwu Menagih Janji, Provinsi Luwu Raya Harga Mati”. 

TRIBUN-TIMUR.COM, LUWU UTARA - Presidium Gerakan Perjuangan Provinsi Luwu Raya (GPPLR) kembali turun ke jalan menuntut pemekaran Provinsi Luwu Raya

Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung di Jembatan Sungai Bunga Didi, Jalan Trans Sulawesi, Desa Bunga Didi, Kecamatan Tana Lili, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Minggu (8/2/2026).

Dalam aksi itu, massa membentangkan kain hitam panjang bertuliskan “Rakyat Tana Luwu Menagih Janji, Provinsi Luwu Raya Harga Mati”. 

Mereka juga membakar ban di dua sisi jembatan sebagai bentuk protes.

Sejumlah demonstran memarkir dua unit mobil pikap yang dilengkapi pengeras suara dan digunakan sebagai panggung orasi. 

Massa aksi secara bergantian menyampaikan aspirasi mereka. 

Selain itu, emak-emak yang tergabung dalam aliansi tersebut terlihat membagikan selebaran kepada para pengendara yang melintas.

Baca juga: Aksi Pelajar Muhammadiyah Setop Pidato Zulkifli Hasan di Unismuh, Tuntut Pemekaran Luwu Raya

Aksi tersebut menyebabkan terjadinya kemacetan panjang karena massa melakukan blokade jalan utama dengan sistem buka tutup.

“Pada aksi ini, kami melakukan blokade jalan dengan sistem buka tutup. Dua jam dibuka, dua jam ditutup,” ujar Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Muh Yusuf, saat ditemui di lokasi, Minggu (8/2/2026).

Meski demikian, massa aksi tetap memberikan akses bagi kendaraan roda dua serta kendaraan tertentu seperti ambulans, mobil pemadam kebakaran, kendaraan pengangkut BBM, dan kendaraan darurat lainnya.

Yusuf juga menyampaikan masyarakat sekitar turut memberikan dukungan terhadap aksi tersebut.

Sementara itu, dalam orasinya, salah satu orator menyoroti ketimpangan pembangunan yang selama ini dirasakan masyarakat Luwu Raya.

“Selama ini, keluarga kita di Seko dan Rampi kesulitan mengakses jalan menuju ibu kota. Keluarga kita di Siteba belum merasakan listrik. Di mana keadilan pembangunan itu? Mengapa hingga kini masih banyak keluarga kita di Luwu Raya yang belum menikmatinya?” teriak orator menggunakan pengeras suara.

Ia menegaskan Luwu Raya memiliki sumber daya alam yang besar dan telah banyak berkontribusi bagi negara.

“Di Luwu Raya, banyak sumber daya alam yang dikeruk untuk membiayai negara. Namun, mengapa keinginan Wija to Luwu untuk menjadi provinsi belum juga terwujud?” ujarnya.

Massa aksi menegaskan akan terus memperjuangkan pemekaran Provinsi Luwu Raya hingga tuntutan mereka tercapai.

“Kita akan terus berjuang sampai cita-cita ini terwujud,” tutupnya. (*)

 

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved