Provinsi Luwu Raya
Tana Luwu Lockdown? Warga Lutra Demo Minta Pemekaran Provinsi Luwu Raya, TK, SD, dan SMP Diliburkan
Sementara di Luwu Utara, warga sudah memadati Tugu Coklat, Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara.
Penulis: Andi Bunayya Nandini | Editor: Sudirman
Ringkasan Berita:
- Ribuan warga Luwu Raya menggelar aksi unjuk rasa menuntut pembentukan Provinsi Luwu Raya di Luwu, Palopo, dan Luwu Utara.
- Aksi ini berdampak pada aktivitas masyarakat, termasuk imbauan menunda perjalanan ke wilayah tersebut.
- Di Luwu Utara, Dinas Pendidikan meliburkan siswa TK, SD, dan SMP selama satu hari karena potensi gangguan lalu lintas dan keamanan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Bagi anda yang ingin berkunjung ke Luwu Raya, harap ditunda dulu.
Ribuan warga akan menggelar aksi unjuk rasa meminta pembentukan Provinsi Luwu Raya.
Aksi akan digelar tiga daerah yaitu Luwu, Palopo, dan Luwu Utara.
Aksi di Luwu dan Palopo diperkirakan digelar setelah sholat Jumat.
Sementara di Luwu Utara, warga sudah memadati Tugu Coklat, Desa Radda, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara.
Baca juga: DPRD Sulsel: Gelombang Aksi DOB Luwu Raya Lahir dari Harapan Pemerataan Pembangunan
Dinas Pendidikan Luwu Utara mengeluarkan surat edaran untuk Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Surat edaran ditanda tangani Kepala Dinas Pendidikan Luwu Utara Misbah.
Ada tiga isi surat edaran yaitu ikut berpartisipasi napak tilas bagi guru SD, SMP di tugu kakao Radda sampai monumen Masamba Affair.
Kedua Mengigat massa yang terlibat diperkirakan ribuan yang berpotensi arus lalu lintas sehingga demi menjaga keamanan dan keselamatan siswa/siswi mulai TK, SD, dan SMP sekitar kota Masamba agar meliburkan siswanya selama satu hari.
Ketiga sekolah yang gurunya ikut berpartisipasi di luar jalur provinsi agar mengatur Proses Belajar Mengajar (PBM).
Tak hanya itu juga beredar Luwu Raya lockdown.
Aksi ribuan warga Luwu bertepatan peringatan Hari Jadi Luwu (HJL) ke-758 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80.
Sejumlah peserta terlihat mengenakan kaus bertuliskan “Provinsi Luwu Raya”.
Seluruh massa juga menggunakan ikat kepala bertuliskan “Provinsi Luwu Raya Harga Mati”.
Setelah menyampaikan orasi singkat, ribuan massa kemudian berjalan kaki menuju Monumen Masamba Affair, Kecamatan Masamba, Luwu Utara.
Sepanjang perjalanan, mereka berbaris sambil membentangkan spanduk besar bertuliskan “Rakyat Tana Luwu Menagih Janji! Provinsi Luwu Raya Harga Mati”.
Selain itu, massa juga membentangkan spanduk hitam bertuliskan “Wujudkan Provinsi Luwu Raya, Wanua Mappatuo Naewai Alena”.
Dalam aksi tersebut, para demonstran turut membakar ban bekas sebagai bentuk protes.
Setibanya di Monumen Masamba Affair, massa aksi secara bergantian menyampaikan aspirasi mereka menggunakan pengeras suara di atas panggung yang telah disiapkan.
Salah seorang orator dalam aksinya menyampaikan kehadiran mereka merupakan bentuk penagihan janji sejarah.
“Kita datang ke sini untuk menagih janji proklamator kepada Yang Mulia Datu Luwu. Kami datang menagih janji sejarah tersebut,” ujar orator sambil mengangkat tangan kirinya.
Ia juga berharap perjuangan tersebut dapat terwujud.
“Semoga perjuangan kita mendapat rida dari Allah SWT dan cita-cita kita bersama bisa terwujud,” tambahnya.
Sementara itu, demonstran lainnya menilai masyarakat Luwu Raya selama ini merasa dianaktirikan dalam pembangunan.
“Kita ini seperti dianaktirikan. Pembangunan tidak merata dan kami tidak mendapat perhatian seperti daerah lain,” ujarnya.
Ia juga menyoroti jauhnya jarak menuju ibu kota provinsi saat ini.
“Kita di Luwu Raya sangat jauh jika ingin menuju ibu kota provinsi. Sudah selayaknya kita menjadi provinsi sendiri,” pungkasnya. (*)
Laporan Wartawan Kontributor Tribun-Timur: Andi Bunayya Nandini
| Setahun Disusun, Naskah Akademik Provinsi Luwu Raya Akhirnya Rampung |
|
|---|
| Ketua Komisi II DPR RI Minta Kajian DOB Luwu Raya Dibuat Lebih Objektif |
|
|---|
| Komisi II DPR RI Kumpul Kepala Daerah Se-Luwu Raya di Rujab Gubernur Sulsel Bahas Pemekaran |
|
|---|
| Pemekaran Luwu Raya, PT Vale Tetap Patuh Aturan dan Jalankan Program Pemberdayaan |
|
|---|
| Dirjen Otda Sebut 370 Draft DOB Menumpuk, Luwu Raya Belum Pasti 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-23-Ribuan-masyarakat-Luwu-Utara-unjuk-rasa-di-Monumen-Masamba-Affair.jpg)