Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Dari Daun Pisang ke Baitullah: Perjalanan 40 Tahun Painah Menjemput Haji

Perempuan 65 tahun asal Dusun Ngegok, Wonosobo Barat itu datang bukan membawa kisah kemewahan.

Tayang:
Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/MCH 2026
PERJALANAN 40 TAHUN- Perempuan 65 tahun asal Dusun Ngegok Wonosobo Barat, Painah duduk bersama putranya Sabar Munasir di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Minggu (17/5/2026). Perjalanan menuju Baitullah dimulai sejak dini hari, lebih dari 40 tahun lalu, ketika ia berjalan menuju pasar sambil memanggul ikatan daun pisang dari kebunnya. 

Tidak ada pekerjaan sampingan. 

Hanya daun pisang yang setiap hari ia bawa ke pasar.

“Kalau dapat Rp100 ribu, ya disimpan sebagian. Kadang dapat Rp50 ribu, kadang Rp15 ribu. Yang penting tetap nabung,” katanya.

Painah mulai mendaftar haji pada 2012. Selama 14 tahun masa tunggu, ia terus menyimpan uang recehan hasil jualannya di rumah. 

Bahkan, menurut sang anak, Sabar Munasir (33), ibunya mendaftar haji menggunakan uang receh yang dikumpulkan bertahun-tahun.

“Daftar hajinya pakai uang receh. Sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk berangkat ke Tanah Suci,” ujar Sabar.

Di tengah penantian panjang itu, Painah sempat dihantui rasa takut tidak sempat berangkat karena faktor usia.

Ia bahkan pernah berpikir tabungan hajinya mungkin hanya akan dipakai untuk biaya pengobatan jika dirinya jatuh sakit sebelum berangkat.

Namun takdir berkata lain. Tahun ini, Painah akhirnya menginjakkan kaki di Arab Saudi sebagai jamaah Kloter YIA 22 bersama 354 jamaah lainnya. Ia terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 dari Yogyakarta menuju Jeddah.

Sesampainya di Tanah Suci, rasa haru tak bisa disembunyikannya.

“Remen sanget bisa sampai tanah suci menjalankan ibadah haji,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam perjalanan suci ini, Painah tidak sendiri. Ia ditemani putranya, Sabar Munasir, yang menggantikan sang ayah karena dinyatakan tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan.

Kini, perempuan yang puluhan tahun hidup dari lembar demi lembar daun pisang itu akhirnya berdiri di pelataran tanah yang selama ini hanya ia sebut dalam doa-doanya.

Kisah Painah menjadi pengingat bahwa jalan menuju Baitullah tidak selalu dibangun oleh harta berlimpah.

Kadang, jalan itu disusun perlahan dari uang receh, kerja keras sebelum Subuh, dan keyakinan yang dijaga selama puluhan tahun.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved