Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

Dari Daun Pisang ke Baitullah: Perjalanan 40 Tahun Painah Menjemput Haji

Perempuan 65 tahun asal Dusun Ngegok, Wonosobo Barat itu datang bukan membawa kisah kemewahan.

Tayang:
Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/MCH 2026
PERJALANAN 40 TAHUN- Perempuan 65 tahun asal Dusun Ngegok Wonosobo Barat, Painah duduk bersama putranya Sabar Munasir di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, Minggu (17/5/2026). Perjalanan menuju Baitullah dimulai sejak dini hari, lebih dari 40 tahun lalu, ketika ia berjalan menuju pasar sambil memanggul ikatan daun pisang dari kebunnya. 
Ringkasan Berita:
  • Kisah haru datang dari jamaah haji asal Wonosobo bernama Painah (65), yang akhirnya tiba di Jeddah setelah puluhan tahun menabung dari hasil menjual daun pisang
  • Setiap hari sejak dini hari, ia memetik dan menjual daun pisang ke pasar demi mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci.
  • Painah mengaku sudah lebih dari 40 tahun bekerja sebagai buruh pemetik daun pisang dengan penghasilan tak menentu, mulai Rp15 ribu hingga Rp200 ribu per hari. 

 

Laporan Hasim Arfah

Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM, JEDDAH — Di antara ratusan jamaah yang tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (17/5/2026), sosok Painah paling menyita perhatian. 

Perempuan 65 tahun asal Dusun Ngegok, Wonosobo Barat itu datang bukan membawa kisah kemewahan.

Melainkan cerita panjang tentang ketekunan, kerja keras, dan uang receh yang dikumpulkan selama puluhan tahun demi bisa berdiri di Tanah Suci.

Bagi sebagian orang, perjalanan haji dimulai dari ruang tunggu bandara. 

Namun bagi Painah, perjalanan menuju Baitullah dimulai sejak dini hari, lebih dari 40 tahun lalu, ketika ia berjalan menuju pasar sambil memanggul ikatan daun pisang dari kebunnya.

Setiap hari, sejak pukul 01.30 dini hari, Painah berangkat ke Pasar Pagi Wonosobo membawa daun pisang hasil petikan tangannya sendiri. 

Baca juga: Koper Jamaah Haji Indonesia Dibongkar, Petugas Saudi Sita 100 Slop Rokok di Bandara Jeddah

Daun-daun itu dilipat, ditimbang per kilogram, dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual untuk menyambung hidup sekaligus menabung biaya haji.

“Saya itu buruh memetik daun. Setiap hari tidak pernah telat. Sudah lebih dari 40 tahun,” ujar Painah kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Bandara Jeddah.

Harga daun pisang yang dijualnya tak seberapa, hanya sekitar Rp2 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram. 

Penghasilannya pun tak menentu. Kadang ia hanya membawa pulang Rp15 ribu dalam sehari, namun sesekali bisa mendapat Rp200 ribu jika dagangan laris.

Dari uang sederhana itulah Painah menabung sedikit demi sedikit. 

Tidak ada penghasilan lain. 

Tidak ada pekerjaan sampingan. 

Hanya daun pisang yang setiap hari ia bawa ke pasar.

“Kalau dapat Rp100 ribu, ya disimpan sebagian. Kadang dapat Rp50 ribu, kadang Rp15 ribu. Yang penting tetap nabung,” katanya.

Painah mulai mendaftar haji pada 2012. Selama 14 tahun masa tunggu, ia terus menyimpan uang recehan hasil jualannya di rumah. 

Bahkan, menurut sang anak, Sabar Munasir (33), ibunya mendaftar haji menggunakan uang receh yang dikumpulkan bertahun-tahun.

“Daftar hajinya pakai uang receh. Sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk berangkat ke Tanah Suci,” ujar Sabar.

Di tengah penantian panjang itu, Painah sempat dihantui rasa takut tidak sempat berangkat karena faktor usia.

Ia bahkan pernah berpikir tabungan hajinya mungkin hanya akan dipakai untuk biaya pengobatan jika dirinya jatuh sakit sebelum berangkat.

Namun takdir berkata lain. Tahun ini, Painah akhirnya menginjakkan kaki di Arab Saudi sebagai jamaah Kloter YIA 22 bersama 354 jamaah lainnya. Ia terbang menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 dari Yogyakarta menuju Jeddah.

Sesampainya di Tanah Suci, rasa haru tak bisa disembunyikannya.

“Remen sanget bisa sampai tanah suci menjalankan ibadah haji,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam perjalanan suci ini, Painah tidak sendiri. Ia ditemani putranya, Sabar Munasir, yang menggantikan sang ayah karena dinyatakan tidak memenuhi syarat istithaah kesehatan.

Kini, perempuan yang puluhan tahun hidup dari lembar demi lembar daun pisang itu akhirnya berdiri di pelataran tanah yang selama ini hanya ia sebut dalam doa-doanya.

Kisah Painah menjadi pengingat bahwa jalan menuju Baitullah tidak selalu dibangun oleh harta berlimpah.

Kadang, jalan itu disusun perlahan dari uang receh, kerja keras sebelum Subuh, dan keyakinan yang dijaga selama puluhan tahun.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved