Haji 2026
PPIH Bandara Pastikan Jamaah Berkebutuhan Khusus Tetap Sah Berniat Ihram dan Umrah
Menurut Anis, kondisi jamaah Indonesia sangat beragam, baik dari sisi usia, kesehatan, hingga kemampuan menerima informasi
Penulis: Muh Hasim Arfah | Editor: Ari Maryadi
Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-timur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi
TRIBUN-TIMUR.COM, JEDDAH — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus memaksimalkan layanan bimbingan ibadah bagi jamaah Indonesia, khususnya jamaah dengan keterbatasan fisik maupun gangguan kesehatan saat kedatangan di bandara Arab Saudi.
Anggota Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Bandara, Anis Diyah Puspita, mengatakan layanan bimbingan ibadah di bandara menjadi pintu utama untuk memastikan keabsahan ibadah jamaah, terutama bagi jamaah gelombang kedua yang langsung melaksanakan umrah wajib setibanya di Tanah Suci.
Menurut Anis, kondisi jamaah Indonesia sangat beragam, baik dari sisi usia, kesehatan, hingga kemampuan menerima informasi.
Salah satu kondisi yang cukup banyak ditemui adalah jamaah dengan gangguan pendengaran.
“Jamaah kita itu sangat beragam, bukan hanya asal daerahnya tetapi juga kondisi kesehatannya. Di antaranya yang baru saja kami tangani adalah jamaah dengan gangguan pendengaran,” ujar Anis di Jeddah, Minggu (10/5/2026) malam.
Ia menegaskan, dalam kondisi seperti itu petugas bimbingan ibadah harus bekerja ekstra untuk memastikan jamaah tetap mampu melafalkan niat ihram dengan benar dan memahami tata cara menjaga ihram selama perjalanan menuju Makkah.
“Peran bimbingan ibadah di bandara harus benar-benar maksimal karena ini menjadi pintu utama keberlanjutan keabsahan ibadah jamaah. Apa pun kondisi jamaahnya, kami harus memastikan mereka bisa berniat dengan benar,” katanya.
Anis menjelaskan, petugas bahkan harus membimbing jamaah secara perlahan, kalimat demi kalimat, terutama bagi jamaah yang kesulitan menerima informasi.
“Kami harus membimbing satu per satu, kata per kata, karena memang ada jamaah yang tidak bisa menerima informasi dengan baik,” ujarnya.
Tidak hanya petugas ibadah, menurutnya seluruh unsur layanan di bandara juga dilibatkan untuk mendampingi jamaah, mulai dari petugas perlindungan jamaah hingga layanan lansia dan disabilitas.
“Semua kami briefing dan kami optimalkan perannya, khususnya untuk membantu substansi ibadah jamaah,” kata Anis.
Selain persoalan niat ihram, petugas juga kerap menemukan jamaah yang masih belum sempurna dalam berpakaian ihram meskipun telah berniat di pesawat.
Misalnya masih mengenakan sepatu tertutup, memakai penutup wajah, jaket, atau pakaian lain yang tidak sesuai ketentuan ihram.
Meski demikian, Anis menegaskan kondisi tersebut tidak membatalkan niat ihram jamaah.
| Fakta Menarik JCH Papua 2026, Mayoritas Warga Bugis-Makassar |
|
|---|
| 2 Kali Naik Pesawat, Jamaah Haji Marauke Tempuh Perjalanan Panjang ke Asrama Haji Sudiang |
|
|---|
| 15 Jamaah Kloter 29 Embarkasi Makassar Bawa Kursi Roda Sendiri ke Asrama Haji Sudiang |
|
|---|
| Sopir Bus Calon Haji di Asrama Sudiang Makassar Meninggal |
|
|---|
| Kisah Haru Fardan, Jamaah Haji Muda Asal Bali Gantikan Almarhum Ayah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260511-Anggota-Bimbingan-Ibadah.jpg)