Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Haji 2026

15 Jamaah Kloter 29 Embarkasi Makassar Bawa Kursi Roda Sendiri ke Asrama Haji Sudiang

Kloter 29 Embarkasi Makassar mulai memasuki Asrama Haji Sudiang hari ini sekitar pukul 08:00 Wita

Tayang:
Penulis: Renaldi Cahyadi | Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com/Renaldi Cahyadi
HAJI 2026 - Suasana kedatangan JCH Kloter 29 Embarkasi Makassar di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Senin (11/5/2026). 15 Jamah asal Papua bawa kursi roda sendiri. 

Ringkasan Berita:

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Sebanyak 15 Jamaah Calon Haji (JCH) Kloter 29 Embarkasi Makassar asal Papua membawa kursi roda sendiri untuk menunjang aktivitas ibadah selama berada di Tanah Suci. 

Mayoritas pengguna kursi roda tersebut merupakan jamaah lanjut usia yang mulai mempertimbangkan kondisi fisik saat menjalankan rangkaian ibadah haji.

Diketahui, kloter 29 Embarkasi Makassar, mulai memasuki Asrama Haji Sudiang hari ini sekitar pukul 08:00 Wita, Senin (11/5/2026).

Mereka rencananya akan diberangkatkan ke Jeddah Arab Saudi pada Selasa (12/5/2026) besok.

Hal itu diungkap oleh, Ketua Kloter 29 Embarkasi Makassar, Mihraini Karim, saat ditemui di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar.

Ia mengatakan total jamaah dalam kloter tersebut mencapai 393 orang termasuk petugas kloter.

"Di situ terdiri dari sekitar 76 jamaah lansia,” katanya.

Menurutnya, jumlah jamaah yang membutuhkan bantuan kursi roda di Kloter 29 tergolong cukup banyak. 

Sekitar 15 jamaah memilih membawa kursi roda sendiri sejak keberangkatan dari Embarkasi Makassar.

“Yang pakai kursi roda, yang bawa kursi roda sendiri saja ada sekitar 15 jamaah," ungkapnya.

"Ada lagi sekitar delapan orang yang membutuhkan kursi roda tetapi tidak membawa sendiri,” tambah dia.

Dengan demikian, total jamaah yang membutuhkan kursi roda mencapai lebih dari 20 orang. 

Namun, Mihrani menegaskan sebagian besar jamaah tersebut bukan dalam kondisi sakit berat, melainkan mempertimbangkan keterbatasan tenaga saat menjalani ibadah yang membutuhkan mobilitas tinggi.

“Bukan karena sakit parah juga. Mereka merasa tenaganya mungkin tidak sanggup untuk berdesak-desakan atau menjalankan ibadah seperti tawaf secara mandiri, sehingga meminta didata sebagai pengguna kursi roda,” ujarnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved