Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Mitra MBG Bone: Korwil BGN Tebang Pilih, Dapur Siap Operasi Justru Tertunda

“Sudah keluar biaya besar, dapur sudah siap, tapi tidak jalan. Ini yang membuat mitra gelisah,” katanya.

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Ansar
Tribun-timur.com
MBG BONE - Potret ilustrasi dapur MBG. Mitra MBG di Bone tuding Korwil BGN tebang pilih, dapur siap operasi justru tertunda.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Sejumlah mitra Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bone mengeluhkan lambannya operasional dapur, bahkan menuding adanya perlakuan tidak adil di tingkat koordinator wilayah (korwil) Badan Gizi Nasional (BGN).

Seorang sumber meminta identitasnya disembunyikan, A, mengungkapkan banyak mitra merasa tidak mendapatkan pelayanan yang semestinya, meski telah memenuhi berbagai persyaratan.

“Banyak mitra merasa tidak digubris. Padahal sudah ada yang bangun dapur, sudah siap operasional, tapi tidak juga dijalankan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (3/5/2026).

Menurutnya, sejumlah mitra bahkan telah menggelontorkan anggaran besar untuk pembangunan dapur MBG, mulai dari Rp1 miliar hingga Rp1,5 miliar.

Namun hingga kini, dapur tersebut belum difungsikan.

“Sudah keluar biaya besar, dapur sudah siap, tapi tidak jalan. Ini yang membuat mitra gelisah,” katanya.

Ia menilai, persoalan utama terletak pada komunikasi yang tidak berjalan efektif antara mitra dan pihak korwil. 

Beberapa mitra disebut kesulitan menjalin komunikasi, bahkan saat mencoba mengonfirmasi perkembangan program.

“Ditelepon tidak diangkat, pesan hanya dibaca. Sudah ditunggu berminggu-minggu, tidak ada kejelasan,” tambahnya.

Dari sisi capaian, ia menyebut progres pembangunan dapur MBG di Bone masih tergolong rendah. 

Dari target lebih dari 80 dapur, baru sekitar 31 yang terealisasi dalam satu tahun terakhir.

“Kalau komunikasinya bagus, harusnya progres bisa jauh lebih cepat. Ini justru terhambat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan distribusi dapur MBG antar wilayah.

 Menurutnya, wilayah perkotaan relatif lebih dulu mendapatkan manfaat, sementara daerah kecamatan masih minim.

“Di kota sudah hampir merata, tapi di kecamatan yang harusnya ada empat dapur, baru satu. Padahal kebutuhan gizi di kampung juga besar,” katanya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved