Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

KUA Tanete Riattang Barat Bone Kebanjiran Pendaftar Nikah Usai Idulfitri

Saat ini tercatat sekitar 17 pasangan yang telah mendaftar untuk melangsungkan pernikahan di KUA Tanete Riattang Barat, Bone.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Istimewa/Abd Wahid
MUSIM NIKAH - Kepala KUA Tanete Riattang Barat, Abd Wahid saat menjadi penghulu di salah satu nikahan. Sebanyak 17 pasangan yang telah mendaftar untuk melangsungkan pernikahan.  

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, mengalami lonjakan pendaftaran pernikahan usai bulan Ramadan.

Kepala KUA Tanete Riattang Barat, Abd Wahid, mengatakan peningkatan tersebut sudah mulai terlihat sejak akhir Ramadan dan berlanjut setelah Hari Raya Idul Fitri.

“Memang setelah Ramadan membludak, ada peningkatan pendaftaran dan orang menikah. Sebagian pendaftaran sudah dilakukan di akhir Ramadan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (26/3/2026).

Ia menyebut, saat ini tercatat sekitar 17 pasangan yang telah mendaftar untuk melangsungkan pernikahan. 

Namun, sebagian besar pelaksanaan akad berlangsung pada bulan Maret.

Baca juga: Kemenag Sulsel: 4 Hari Setelah Idulfitri, 168 Pasangan Daftar Pernikahan

Menurut Abd Wahid, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka pernikahan di periode ini. 

Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang menunda pernikahan selama bulan Ramadan.

“Selama Ramadan biasanya ditunda karena puasa,” jelasnya.

Selain itu, bulan Syawal juga diyakini sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan menurut ajaran agama.

“Di bulan Syawal itu dianggap lebih afdal untuk menikah,” tambahnya.

Faktor budaya lokal juga turut memengaruhi. 

Masyarakat Bone umumnya menghindari pernikahan pada bulan Zulkaidah dan Zulhijjah yang dikenal dengan istilah 'Uleng Taccipi' atau bulan terjepit.

“Karena itu, banyak yang memilih menikah di bulan Syawal,” katanya.

Momentum mudik Lebaran juga menjadi salah satu alasan meningkatnya pernikahan. 

Keluarga besar yang berkumpul dimanfaatkan untuk menggelar acara pernikahan.

“Biasanya dua sampai tiga hari setelah Lebaran sudah ada yang menikah, karena mumpung keluarga masih berkumpul,” ungkapnya.

Di sisi lain, lonjakan pendaftaran ini menjadi tantangan bagi pihak KUA dalam memberikan pelayanan. 

Terlebih dengan keterbatasan jumlah pegawai yang ada.

Abd Wahid menjelaskan, pelayanan di KUA berbeda dengan di kantor Kementerian Agama karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Kalau di KUA, pelayanan langsung ke masyarakat seperti pendaftaran nikah, rekomendasi, dan pengesahan. Jadi tidak bisa dilakukan dari rumah,” jelasnya.

Ia juga menyinggung penerapan sistem Work From Anywhere (WFA) yang dinilai tidak sepenuhnya bisa diterapkan di KUA.

“Kalau di Kemenag mungkin bisa, tapi di KUA sulit karena pelayanan langsung. Apalagi setelah Ramadan layanan meningkat dan harus dilayani di kantor,” ujarnya.

Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Binmas) Kementerian Agama Bone, Salahuddin, menjelaskan bahwa pendaftaran pernikahan sepenuhnya dilakukan di KUA masing-masing kecamatan.

“Pendaftaran nikah langsung di KUA. Nanti laporan masuk setelah akhir bulan. Misalnya laporan bulan Maret, itu biasanya baru masuk di awal April,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak Kementerian Agama hanya melayani penerbitan buku nikah, sementara proses administrasi dilakukan di KUA.

“Kalau di Kemenag itu kami hanya melayani buku nikah. Untuk pendaftaran tetap di KUA masing-masing, nanti kepala KUA yang mengambil buku nikah di kami,” tandasnya.(*)

 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved