Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Setelah 15 Tahun, 'Kulit' Patung Raja Bugis Arung Palakka di Watampone Bone Dibersihkan

Patung ikonik di pusat ibu kota kabupaten berpenduduk 827 ribu jiwa ini, dibangun tahun 1990.

Tayang:
Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Wahdaniar
ARUNG PALAKKA - Pengecatan ulang patung Arung Palakka setelah lebih 15 tahun di Komplek Lapangan Merdeka, Watampone, Bone, Selasa (3/2/2026). Setelah 15 tahun, 'Kulit' Patung Raja Bugis Arung Palakka di Watampone dibersihkan.  

Patung ikonik di pusat ibu kota kabupaten berpenduduk 827 ribu jiwa ini, dibangun tahun 1990.

Seremoni peresmian bertepatan Hari Jadi ke-661 Bone pada tanggal 6 April 1991.

Saat itu, inisiator proyek ikon Raja Bone ini datang dari Kolonel (Purn) Andi Sjamsoel Alam, Bupati ke-10 Bone (6 April 1988 -17 April 1993)

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bone, Dray Vibrianto, menyebut pengecatan ulang patung ini bagian dari proyek revitalisasi Taman Arung Palakka, kawasan hijau di depan Rumah Jabatan Bupati Bone.

Di mata pemerintah, selain public photo space, ikon raksasa ini juga sebagai ruang refleksi budaya dan karakter tokoh bangsa itu, termasuk siapa pembuat patung Arung Palakka tersebut.

“Pengecatan tidak langsung jadi. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, mulai dari cat dasar, rekonstruksi warna hitam, hingga lapisan berikutnya dengan sistem layer. Totalnya bisa mencapai empat sampai lima lapisan,” jelas Dray.

Menariknya, bagi Dray Vibriantor, kegiatan pengecatan Patung Arung Palakka ini memiliki cerita tersendiri, bahkan ia menyebutnya seperti sebuah takdir.

 Ia mengingat, pengecatan terakhir patung tersebut juga dilakukan saat dirinya masih menjabat sebagai Kasatpol PP Kabupaten Bone pada periode kedua kepemimpinan Idris Galigo sebagai Bupati Bone.

“Saya berakhir sebagai Kasatpol PP pada tahun 2012. Saat itu, saya juga mendapat tugas melakukan pembenahan dan pengecatan patung ini. Dan sekarang, di era kepemimpinan BerAmal, saya kembali diberi amanah yang sama,” ungkapnya dengan nada reflektif.

Mimpi Dicky Chandra

Sejarah proyek patung Arung Pallakka pernah dimuat pemerhati Budaya Bugis A Amir Wija To Bone.

Melalui akun facebooknya, pengurus KKSS Bontang, Kalimantan Timur ini, menulis sekelumit para pekerja patung ini.

“Dicky Chandra mengaku mendapat petunjuk lewat mimpi, sebelum membuat parung ini,” tulisnya.

Dicky adalah pematung nasional dosen tetap di Universitas Negeri Makassar tapi beliau juga sebagai dosen terbang di beberapa Universitas Seni di Indonesia termasuk di ASRI Jogjakarta. 

Beliau punya keturunan Belanda, dan campuran dari beberapa suku dari Jawa, Makassar, Manado, dan Bugis Bone

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved