Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Konflik Sunni Syiah di Balik Perang Iran Israel

Iran dengan ideologi Syiah revolusionernya, dan Israel dengan kekuatan militer serta lobi internasionalnya.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Aswar Hasan Dosen Fisipol Unhas   

Oleh: Aswar Hasan

Dosen Fisipol Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Perang Iran-Israel memanas. Media internasional menggambarkan ketegangan tersebut sebagai pertarungan antara dua kekuatan besar regional.

Iran dengan ideologi Syiah revolusionernya, dan Israel dengan kekuatan militer serta lobi internasionalnya.

Namun, di balik riuhnya narasi konflik tersebut, ada satu isu yang sempat mengganggu, yaitu perpecahan Sunni-Syiah yang terus direproduksi dan dimanfaatkan sebagai alat pecah belah umat Islam.

Tak bisa disangkal, perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah bagian dari sejarah Islam yang panjang dan penuh luka. Sejak wafatnya Rasulullah ﷺ, umat Islam terpecah dalam menentukan kepemimpinan.

Berawal di Tsaqifah, Memuncak di Karbala

Ketika Nabi wafat, sebagian sahabat berkumpul di Tsaqifah Bani Sa’idah untuk memilih pemimpin.

Akhirnya, Abu Bakar dibaiat sebagai khalifah pertama. Namun sebagian sahabat, khususnya dari kalangan Ahlul Bait, berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lebih berhak memimpin berdasarkan peristiwa Ghadir Khum.

Ghadir Khum adalah sebuah tempat di antara Mekkah dan Madinah, tempat Rasulullah ﷺ berhenti dalam perjalanan pulang dari Haji Wada’ (Haji Perpisahan) pada tahun 10 Hijriah.

Di kalangan Syiah, peristiwa Ghadir Khum dianggap sebagai isyarat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerus atau khalifah setelah Nabi Muhammad ﷺ:

Di tempat itu, Nabi bersabda;  "Barang siapa yang aku adalah mawla (pemimpinnya), maka Ali adalah mawla-nya. Ya Allah, tolonglah siapa yang menolongnya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya." (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya. Hadis ini, dinilai hasan oleh banyak ulama.

Sahabat dalam menafsirkan hadis tersebut, berpendapat bahwa proses terpilihnya Abu Bakar  adalah penyimpangan terhadap wasiat Nabi di Ghadir Khum. Sementara bagi Sunni, pemilihan Abu Bakar adalah hasil ijtihad dan diterima oleh umat.

Puncak konflik tersebut, pada saat Husain bin Ali menolak membaiat Yazid bin Mu’awiyah yang dianggap tiran.

Saat menuju Kufah, ia dan rombongannya dicegat dan dibantai pasukan Umayyah di Karbala. Husain gugur dalam keadaan kehausan, kepalanya dipenggal.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved