Opini
Hutan Runtuh, Air Mengering: Kapitalisme dan Krisis Air
Air bersih sebagai bagian dari sumber daya alam yang paling vital bagi kehidupan manusia.
Oleh: Siti Fatimah Umamit ST M SP
Dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Muhammadiyah Bulukumba
Air bersih sebagai bagian dari sumber daya alam yang paling vital bagi kehidupan manusia.
Kebutuhan terhadap air bersih merupakan kebutuhan dasar manusia sebab hampir semua aktivitas manusia, dari kebutuhan sehari-hari hingga sektor industri, bergantung pada
ketersediaan air bersih.
Sehingga dalam memastikan ketersediaan air bersih, Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memastikan akses air bersih bagi seluruh warganya sesuai dengan amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
Ketersediaan dan akses air bersih dalam beberapa bulan terakhir di Kota Makassar mengalami hambatan.
PDAM Kota Makassar menyebutkan, akibat kemarau suplai air bersih di wilayah utara dan timur Kota Makassar mulai terganggu.
Selain itu, sebagian wilayah kecamatan juga turut terdampak. Daerah terdampak yaitu sebagian Kecamatan Manggala, Kecamatan Makassar, Kecamatan Panakkukang, dan Kecamatan Rappocini.
Kondisi ini terjadi karena Imbas dari kemarau panjang mengakibatkan di Bendungan Lekopancing dan Bili-Bili darurat kekeringan. (detik.com/sulsel, 14-09-2024)
Darurat kekeringan dan krisis air bersih mejadi petunjuk bahwa bumi tengah menderita kerusakan lingkungan yang sangat parah.
Penelitian terkini para ahli iklim dan lingkungan menunjukan laju deforestasi yang sangat cepat adalah yang paling bertanggungjawab terhadap darurat kekeringan dan krisis air bersih, di samping iklim ekstrim dan pemanasan global Keduanya, baik deforestasi maupun iklim ekstrim faktor penghambat keberlangsungan daur air sejalan dengan temuan dalam laporan yang diterbitkan UN-Water berjudul Climate Change and Water UN-Water Policy Brief (2019).
Berdasarkan kajian peta digital spasial tutupan hutan Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh tim JURnal Celebes.
Di tahun 2019 tutupan hutan tersisa adalah 1.342.058 hektar, terbagi atas 540.110,49 hektar hutan primer dan 801.947,79 hektar hutan sekunder.
“Meski Data ini menunjukkan, meskipun wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan hutan mencapai 2,6 juta hektar, ekosistem yang masih berupa hutan hanya separuhnya, 1,3 juta hektar,” ungkap Direktur JURnal Celebes Mustam Arif (Mongabay.co.id,27-03-2023)
Penting diingat, laju deforestasi yakni alih fungsi hutan yang begitu pesat selama dekade terakhir bukan karena tekanan populasi manusia sebagaimana yang banyak disangkakan.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Siti-Fatimah-Umamit-ST-M-SP-Dosen-Prodi-Perencanaan-Wilayah-5.jpg)