Tak Kapok Diringkus Polisi, Sapri Si Jukir Liar Viral di Mixue Kembali Berulah di Jl Gagak Makassar
Kali ini, ia diduga memimpin aksi premanisme berupa pendudukan dan perusakan sebuah ruko empat lantai di Jalan Gagak.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sapri alias Reza (32), pria yang sempat viral karena mengamuk di toko es krim Mixue Jl Sunu, Makassar, kembali berulah.
Kali ini, ia diduga memimpin aksi premanisme berupa pendudukan dan perusakan sebuah ruko empat lantai di Jalan Gagak.
Lokasinya tepat di depan warung Coto Gagak, Kelurahan Kampung Buyang, Kecamatan Mariso, Kota Makassar.
Ruko tersebut merupakan aset lelang yang telah dimenangkan secara sah oleh Rudy Sampe, warga Makassar, pada Juni 2025.
Namun, sejak awal Juli, bangunan itu diduduki sekelompok orang yang mengklaim sebagai penjaga ruko, salah satunya adalah Reza.
Kuasa hukum Rudy, Hadriani, menjelaskan bahwa pihaknya semula memberikan kompensasi kepada Reza.
Kompensasi yang diberikan sebesar Rp15 juta atas kesepakatan lisan untuk menjaga ruko sementara pasca lelang.
Namun, situasi berubah ketika Reza kembali menuntut uang tambahan dengan dalih kebutuhan harian.
“Awalnya kami beritikad baik, Reza alias Sapri ini diberikan Rp15 juta untuk menjaga ruko. Tapi belum dua hari, dia kembali minta uang Rp7,5 juta lagi, katanya untuk makan, rokok, dan jaga dua hari. Itu sangat tidak masuk akal,” kata Hadriani di Jl Yusuf Daeng Ngawing, Rappocini, Kota Makassar, Kamis (10/7/2025) malam.
Walau dinilai tak masuk akal, permintaan itu kembali dituruti untuk menghindari keributan.
“Beberapa hari kemudian, dia kembali meminta uang sebagai 'uang terima kasih'. Klien kami menolak, dan setelah itu muncul ancaman bahwa ruko akan ditutup jika tidak dibayar,” lanjutnya.
Hadriani menilai, pola pemerasan yang dilakukan Reza tidak berhenti, bahkan terus berulang dan memperkeruh keadaan.
Hadriani menegaskan bahwa Reza dan kelompoknya mulai menyegel, merusak pintu ruko, bahkan diduga menjarah isi bangunan.
Mereka juga mengklaim bertindak atas perintah pemilik lama.
Padahal sertifikat resmi telah berpindah tangan ke Rudy Sampe berdasarkan risalah lelang yang sah.
“Mereka mencabut kunci, menutup paksa. Lalu ada barang-barang klien kami hilang di dalam ruko. Itu jelas perbuatan melawan hukum,” ujarnya.
Hadriani mengaku dirinya terus mendapat teror dari Reza melalui pesan WhatsApp.
Bahkan, Reza mengirimkan rekaman suara yang isinya menekan dan meminta uang dengan dalih "uang terima kasih".
Dalam rekaman berdialek Makassar itu, Reza terdengar menyampaikan peringatan yang mengandung unsur intimidasi.
"Kalau tidak bisaki (beri uang), ditutup mami (ruko itu saya tutup). Tapi ingatki, kalau saya tutup sama anak-anak, lebih besarki lagi itu dibayar, kutanyaki. Saya sebenarnya tidak mauja jadi penghianat, Bu, tapi orang di sana (minta imbalan)," ujar Reza dalam rekaman yang dikirim ke Hadriani.
Lebih jauh, Reza bahkan tidak takut menghadapi siapapun.
Sekalipun pemilik ruko sudah menghadirkan polisi ke lokasi, Reza dan anak buahnya tetap melawan.
"Karena uang sedikitnyaji, jadi menghianatki orang. Tapi satuji saya pesan, kalau anak-anak tutup (itu ruko), minta maaf. Sekali pun lagi siapa yang dipanggil. Itu ji saya sampaikan bu, lebih besarki lagi nilainya kita bayar. Apalagi kita mau ke sana bilang berapa orang? Kutanyaki itu bu," lanjut Reza.
Hadriani menegaskan bahwa rekaman tersebut merupakan bukti upaya pemerasan dan intimidasi yang nyata.
Ia sudah melaporkan aksi Reza dan kelompoknya ke Polrestabes Makassar pada 2 Juli 2025 dengan nomor laporan STBL/1147/VII/2025.
"Ini bukan cuma soal perusakan atau pendudukan. Ini sudah masuk ke ranah pemerasan dengan tekanan psikologis. Kami minta aparat penegak hukum serius menindak kasus ini," tegas Hadriani.
Ia menambahkan bahwa meski polisi sempat menyambangi lokasi ruko, namun hingga saat ini belum ada proses hukum yang berjalan.
Ruko juga masih dikuasai oleh kelompok Reza yang disebut-sebut membawa-bawa nama ormas.
“Sudah seminggu kami melapor, bahkan dua kali kami konfirmasi ke Polrestabes, tapi belum ada penindakan. Kami khawatir Reza dan kelompoknya semakin berani karena merasa kebal hukum,” ungkapnya.
Hadriani menambahkan bahwa Reza membawa-bawa nama organisasi masyarakat (ormas) dalam aksinya, sebagaimana juga terjadi saat insiden di Mixue beberapa waktu lalu.
“Mereka bilang akan turunkan ormas kalau permintaan mereka tidak dipenuhi. Ini kan jadi ancaman bagi pemilik sah. Tindakan seperti ini sangat mencoreng nama baik ormas yang sesungguhnya,” tutup Hadriani.
Pihak Polrestabes Makassar belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus tersebut hingga berita ini diturunkan.
Jukir Ngamuk dan Ancam Karyawan Gerai Es Krim di Makassar
Aksi dua juru parkir (jukir) terlibat adu mulut dan intimidasi terhadap karyawan toko es krim di Kota Makassar viral di media sosial.
Kejadian tersebut terekam kamera CCTV, memperlihatkan dua pria mendatangi toko dan bersitegang dengan tiga karyawati.
Salah satu dari mereka bahkan dilempari kuaci ke wajah.
Salah satu dari mereka bahkan dilempari kuaci ke wajah.
Dalam video yang beredar, kedua pria itu juga mengancam akan membawa organisasi masyarakat (ormas) untuk mengepung toko es krim di Jl Sunu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.
Kanit Reskrim Polsek Tallo, Iptu Saiful Basir, membenarkan kejadian tersebut.
Ia menyampaikan bahwa dua pria berinisial YD (31) dan SP (32) telah diamankan pada Rabu malam.
"Jadi kita amankan terkait dengan adanya laporan informasi kemudian viral. Kemudian kedua juru parkir kita amankan di Polsek Tallo," ujar Iptu Saiful Basir kepada wartawan, Kamis (5/6/2025).
Saiful menjelaskan, insiden bermula dari kesalahpahaman saat salah satu rekan pelaku dilarang menggunakan toilet toko.
"Jadi kejadiannya juru parkir dua orang ini, temannya izin untuk buang air kecil. Setelah itu ditegur bahwa bukan WC umum," ungkap Saiful.
"Kemudian temannya juru parkir melaporkan ke juru parkir bahwa seperti ini apa yang dibilang di dalam," lanjutnya.
Pelaku kemudian datang ke toko, mendekati kasir, memaki, dan mengancam akan menurunkan massa ormas.
"Lalu mendekati kasir dan memaki kemudian mengancam akan menurunkan ormas. Iya, dari kedua juru parkir yang kita amankan, kedua-duanya emosi," bebernya.
Namun, polisi masih mendalami status pelaku apakah benar anggota salah satu ormas.
"Jadi untuk perbuatan intimidasi bahwa akan menurunkan ormas, (kalau penganiayaannya) untuk sementara belum ada," terang Saiful.
"Jadi sementara kita amankan, kemudian kita lakukan pendalaman, penyelidikan apakah itu benar ormas atau tidaknya," tuturnya.(*)
Wali Kota Munafri Pimpin Rakor TPA, DLH Jadi Lead Sektor |
![]() |
---|
Pegadaian Siap Dukung Program RPL FEB Unismuh Lewat Magang dan Literasi Keuangan |
![]() |
---|
Antisipasi Krisis Air Bersih: Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Harga Mati |
![]() |
---|
Waspada Macet! Fly Over-DPRD Sulsel Titik Aksi Makassar Hari Ini, Dikawal 1.123 Personel Polrestabes |
![]() |
---|
Gledson Lengkapi Aroma Samba di PSM Makassar, Total 6 Pemain Brasil Berseragam Juku Eja |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.