Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Petani Paham Kebijakan Moneter, Sulsel Membangun Benteng Mikro Hadapi Krisis Global

Dengan pemetaan kelompok strategis berbasis kerentanan dampak global, BI Sulsel mendesiminasikan kebijakan moneter melalui kanal yang membumi.

Editor: Muh. Abdiwan
TRIBUN-TIMUR.COM/MUHAMMAD ABDIWAN
Muhammad Abdiwan Zulkifli, Pewarta Makassar 

Oleh: Muhammad Abdiwan

Pewarta Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Gelombang ketidakpastian global, mulai dari inflasi, disrupsi rantai pasok, hingga eskalasi konflik Iran-Israel, menguji ketahanan ekonomi Indonesia.

Di tengah gejolak yang berpotensi mengerek harga energi, menggoyahkan nilai tukar, dan mengancam stabilitas pangan, Sulawesi Selatan justru menampilkan strategi bertahan yang visioner.

Respon provinsi ini tidak berhenti pada kebijakan makro, tetapi meresap hingga ke level rumah tangga, membentuk mozaik ketangguhan yang unik.

Di tingkat nasional, Bank Indonesia (BI) berperan sebagai penjaga stabilitas. Melalui kebijakan moneter, penguatan cadangan devisa, dan koordinasi dengan pemerintah, BI membangun benteng menghadapi dampak perang dan volatilitas global.

Namun benteng ini rapuh tanpa dukungan publik yang memahami mekanisme ekonomi. Transmisi kebijakan moneter seringkali terdistorsi oleh mispersepsi dan hoaks seperti kepanikan borong sembako atau rush beli dolar saat isu konflik Timur Tengah merebak.

Di sinilah BI Perwakilan Sulsel tampil sebagai jembatan vital. Mereka mentransformasi kebijakan makro menjadi solusi kontekstual untuk tantangan khas Sulsel, disparitas literasi ekonomi antara warga Makassar dan dipelosok Maros, kerentanan nelayan Takalar terhadap fluktuasi harga solar, serta ketergantungan UMKM sutera Wajo pada rantai pasok global.

Dengan pemetaan kelompok strategis berbasis kerentanan dampak global, BI Sulsel mendesiminasikan kebijakan moneter melalui kanal yang membumi.

Materi edukasi berbahasa Bugis dan Makassar, podcast simulasi risiko nelayan, serta dashboard harga komoditas real-time menjadi senjata melawan misinformasi. Kolaborasi teknis dengan Pemda dan Bank Sulselbar memastikan program tidak sebatas presentasi diruang rapat, tetapi menyentuh pelaku ekonomi riil.

Pada level mikro, gelombang krisis justru melahirkan inovasi warga. Di pesisir Bulukumba, nelayan beralih ke pemasaran digital langsung ketika biaya logistik melonjak akibat gangguan jalur pelayaran global.

Di Enrekang, petani bawang membentuk koperasi distribusi mandiri untuk memutus ketergantungan pada pupuk impor yang harganya fluktuatif.

Sementara di perumnas Palopo, ibu-ibu PKK mengembangkan kelompok simpan pinjam berbasis QRIS guna melindungi daya beli dari inflasi pangan.

Yang mencengangkan, hoaks tentang dampak perang Iran-Israel tak lagi memicu kepanikan massal. Masyarakat mulai merespons dengan merujuk data inflasi BI dan menyesuaikan anggaran keluarga secara rasional.

Klimaks transformasi ini terletak pada sinergi visioner antara BI Sulsel dan lahirnya "Smart Citizen". BI tak sekadar memberi kebijakan top-down, tetapi membangun ekosistem literasi ekonomi yang hidup, pendekatan kultural melalui tokoh adat sebagai agen edukasi, sekolah kebijakan moneter di sentra UMKM, dan inovasi digital seperti aplikasi mitigasi risiko untuk petambak.

Di sisi lain, "Smart Citizen", warga melek finansial, adaptif teknologi, dan optimis, tumbuh sebagai kekuatan pengimbang. Lihatlah petani kopi Toraja yang memantau harga global via website BI (https://www.bi.go.id/hargapangan) untuk menentukan waktu panen strategis atau generasi muda Makassar yang beralih ke investasi emas digital saat rupiah fluktuatif ada juga pengrajin perahu Phinisi di Bira yang mengganti bahan impor dengan material lokal saat pasokan terhambat konflik.

Simbiosis ini mengkristal dalam filosofi "Sipatokkong" (saling menopang). BI Sulsel menyediakan peta navigasi menghadapi turbulensi global, sementara warga menggerakkan perahu ekonomi dengan dayung inovasi. Hasilnya nyata, cadangan pangan desa berbasis prediksi inflasi BI, klaster UMKM ekspor yang tahan guncangan valas, dan komunitas investor retail yang melihat ketidakpastian sebagai ruang peluang.

Di ujung gelombang ketidakpastian, Sulsel membuktikan satu hal: ketangguhan sejati lahir ketika kebijakan makro bertaut dengan kecerdasan mikro. Kolaborasi BI Sulsel dan "Smart Citizen" bukan sekadar program, ia adalah arsitektur ekonomi masa depan, di setiap nelayan yang paham mitigasi risiko, setiap ibu yang bijak kelola inflasi, dan setiap pemuda yang melihat krisis sebagai kanvas inovasi.

Saat dunia dilanda kecemasan, Sulsel berlayar dengan kompas literasi ekonomi, mengarungi samudera global dengan perahu bernama kemandirian.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved