Opini
Jalan Panjang Unhas Menuju Universitas Bertaraf Internasional
Dua tahun lebih cepat dari yang di targetkan di tahun 2028 oleh Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa.
Calon mahasiswa dan orang tua juga semakin menjadikan Unhas sebagai pilihan utama pendidikan tinggi, sehingga seleksi masuk menjadi lebih kompetitif yang secara simultan berdampak pada kualitas input yang semakin membaik.
Ketiga, Prestasi internasional ini juga tentunya menguntungkan bagi alumni Universitas Hasanuddin.
Masyarakat semakin percaya terhadap lulusan Unhas yang kini dianggap memiliki daya saing internasional.
Keempat, konsekuensi finansial dan manajerial dari status sebagai perguruan tinggi bertaraf internasional juga semakin kompleks.
Kebutuhan akan infrastruktur riset, peningkatan kapasitas dosen, hingga sistem dukungan bagi mahasiswa internasional akan terus meningkat.
Artinya, dibutuhkan tata kelola yang agile dan kolaboratif, baik secara internal antar fakultas dan lembaga, maupun eksternal bersama pemerintah, industri, dan mitra internasional.
Kelima, posisi strategis Unhas di kawasan Indonesia timur harus dimanfaatkan secara maksimal.
Dengan keunggulan geografis dan keilmuan, Unhas memiliki modal besar untuk memimpin riset tentang laut, maritim, ketahanan pangan yang merupakan cita-cita besar Kabinat Merah-Putih, lingkungan tropis, hingga kesehatan komunitas kepulauan.
Di tengah krisis iklim global dan ketimpangan pembangunan antar wilayah, kehadiran Universitas Hasanuddin yang berdaya saing global tentu sangat penting bagi terciptanya pemerataan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tentu masih banyak pekerjaan rumah bagi Unhas ke depan. Publikasi ilmiah internasional yang bereputasi harus diperkuat secara sistemik, bukan hanya oleh segelintir dosen produktif.
Sistem insentif, pelatihan akademik berbahasa Inggris, dan kemudahan kolaborasi dengan institusi luar negeri harus terus dipacu sebagai bagian dari ekosistem akademik.
Demikian pula halnya dengan pengembangan soft skill dan daya saing lulusan agar sejalan dengan kebutuhan dunia kerja global.
Yang tak kalah penting adalah menjaga nilai-nilai kearifan lokal dan kebhinekaan dalam proses internasionalisasi kampus.
Keunggulan global harus berpijak pada konteks lokal. Inilah yang akan membuat Universitas Hasanuddin tidak hanya menjadi “pengikut tren global”.
Universitas Hasanuddin telah membuka jalan baru. Kini saatnya menjadikan prestasi ini bukan hanya sebagai simbol kebanggaan, tetapi juga sebagai titik tolak menuju lompatan besar dalam membangun perguruan tinggi yang berdampak—bagi ilmu pengetahuan, bagi bangsa, dan bagi umat manusia.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.