Opini
Kurban dan Logika Kemaslahatan
Bahkan sampai ada yang membandingkan antara harta yang digunakan untuk berkurban dengan harta yang lebih banyak untuk keperluan lain.
0leh : A. RAHMAN
Ketua PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Sulawesi Selatan Periode 2007-2009
TRIBUN-TIMUR.COM - Banyak mengeluhkan perihal ketaatan ummat Islam menjalankan ibadah kurban sedemikian sulitnya dilaksanakan.
Bahkan sampai ada yang membandingkan antara harta yang digunakan untuk berkurban dengan harta yang lebih banyak untuk keperluan lain.
Dilihat dari proses awal mula kurban dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, maka dapat disimpulkan bahwa ibadah kurban itu penuh dengan tantangan, ujian dan cobaan yang mestinya harus diteladani bagaimana melalui berbagai ujian dan cobaan itu.
Jumlah harta yang dikeluarkan untuk berkurban dari dua juta sampai tiga juta itu bagi yang mampu, tidak setara dengan harta yang dimilikinya selama ini.
Akan tetapi rasa yang dihadirkan oleh Allah dalam setiap harta yang hendak dikurbankan layaknya putra semata wayang yang menjadi tumpuan, dan harapan untuk melanjutkan segala hal yang ingin dicapai.
Kecintaan kepada sesuatu yang dimiliki inilah yang menjadi tantangan dalam proses berkurban.
Dalam menghadapi ujian atas kecintaan kepada putra semata wayang yang diperintahkan untuk disembelih sebagai bentuk ketaatan ini, sekaligus mengidentifikasi kualitas ketaatan dan kesadaran perihal diri dan nikmat yang selama ini diperoleh dari mana.
Momentum Idul kurban ini Allah Subhanahu Wataala mengingatkan kepada manusia perihal “Sungguh sudah kami berikan kepada kalian begitu banyak nikmat.
Inilah pertimbangan utama yang harus diperhatikan oleh Ummat Islam yang hendak berkurban bahwa diri dan nikmat yang selama ini dinikmati dala perjalanan hidup kesemuanya dari Allah.
Sehingga betapapun kita cinta dan butuh maka lebih utama membuktikan ketaatan kepada Allah.
Menjelang hari raya idul kurban, manusia diliputi pemikiran, perasaan dan diskusi panjang perihal keputusan untuk berkurban.
Kalau seseorang menyadari bahwa kehidupannya adalah pemberian Allah dan harta yang dimiliki adalah harta yang dimohonkan dan dicari di jalan Allah, maka harta yang dimilikinya itu akan memudahkan baginya untuk berkurban.
Sebagaimana ketulusan dan kerelaan putra Nabi Ibrahim yakni Nabi Ismail yang mendukung ayahnya untuk menjalankan perintah Allah dengan menyembelih dirinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/A-Rahman-512.jpg)