Opini
Menguji RMS Effect
Agak laen dan “mengejutkan” yang saya maksud karena fenomena itu terjadi saat kondisi partai Nasdem yang dipimpinnya lagi bagus-bagusnya.
Tidak terkecuali para pemilih yang sebelumnya setia pada partai lain.
Dengan gaya kepemimpinan RMS yang terbuka dan transparan, kerja-kerja mesin partai berjalan maksimal dari tingkat wilayah hingga kelurahan/desa.
Suami dari Wagub Sulsel, Fatmawati Rusdi ini juga mampu merangkul berbagai elemen masyarakat lewat ide dan praktik politik kemanusiaan.
Selanjutnya pertanyaan saya kirim kepada beberapa orang dekatnya. Untuk mencari tahu rasa penasaran publik: Apa alasan RMS pindah? Adakah desakan atasannya di partai?Kenapa mesti PSI?
Tentu saja bermacam spekulasi muncul. Beragam tafsir mengemuka. Bebas. Sah saja. Tidak dilarang berpendapat. Apalagi di era demokrasi yang sedang tumbuhnya di negari kita ini.
Rasanya, dengan melihat rekam jejak kinerjanya yang ciamik, bukan dari unsur internal partainya yang menghendaki dirinya hengkang. Bukan juga dari atasannya Surya Paloh, sang Ketum. Karena setahu saya, RMS bersama Ahmad Ali dikenal dua “sejoli celebes” yang selama ini jadi kader andalannya.
Kelihatannya datang dari eksternal. Siapa lagi, kalau bukan dari PSI yang dinakhodai Kaesang Pangarep, putra bungsu mantan Presiden Jokowi.
Atau setidaknya dari satu tim khusus yang bertugas merekrut orang-orang tertentu yang dikehendaki, untuk mewujudkan keinginan dan impian mereka lolos parlemen di Pemilu mendatang.
Yang pasti, yang tahu alasannya hanya yang bersangkutan. Dan keputusan pindah pun hak sepenuhnya. Bebas.
Setiap saat orang kapan saja bisa masuk partai politik, bisa memilih berhenti atau pindah ke partai lainnya.
“Tidak ada tekanan,” ujar Mulawarnan, orang dekat RMS yang juga wartawan senior yang terakhir berkarir di Harian Surya.
Rencana kepindahan RMS menurut Mulawarman, sudah lama berproses. Bukan ujug-ujug.
Telah dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak. Kabarnya, dalam tiga kali kunjungan ke Sulsel, Kaesang secara khusus menemui RMS di Makassar.
Begitu juga di Jakarta. Posisinya RMS “dilamar”. Hasilnya: deal sejumlah syarat dan lamaran hampir pasti diterima. Ditandai momen jabat keduanya dengan senyum lebar.
Apalagi dengan mengambil keputusan itu, tentu saja dia sudah memahami konsekuensi yang akan diterimanya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.