Wawancara Eksklusif Tribun Timur
Pesan Waisak 2025: Kendalikan Tiga Akar Kejahatan
Tema Waisak tahun ini adalah Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia.
Penulis: Hasriyani Latif | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM - Umat Buddha akan memperingati Hari Raya Waisak 2569 BE pada Senin, 12 Mei 2025.
Tema Waisak tahun ini adalah Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia.
Dalam Podcast Ngobrol Virtual Tribun Timur, Jumat (9/5/2025) Ketua Vihara Girinaga, Pdt Roy Ruslim dan Wakil Ketua 3 DPD Walubi Sulsel, Miguel Dharmadjie memaparkan pesan dari tema itu.
Dipandu Host Fiorena Jieretno, berikut petikan wawancaranya:
Poin penting tema ini?
Miguel: Ada tiga poin utama, pengendalian diri, kebijaksanaan, dan perdamaian dunia. Dalam ajaran Buddhis, kita percaya bahwa keberadaan kita tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial. Artinya, kita hidup bersama banyak orang, dan itu wajar, bukan sesuatu yang asing.
Dalam Buddhisme, perbedaan adalah sesuatu yang nyata karena kita semua memiliki karma masing-masing. Karena itulah, saat kita hidup bersama dan bersosialisasi, maka untuk menciptakan kedamaian, kita harus mulai dari pengendalian diri.
Maksud pengendalian diri?
Miguel: Sang Buddha mengibaratkan pengendalian diri sebagai kekuatan keamanan yang berasal dari dalam diri. Artinya, kalau kita ingin hidup dalam keadaan yang baik, tenteram, dan damai, maka semua itu harus dimulai dari diri kita sendiri dari dalam, bukan dari luar.
Pengendalian terhadap apa?
Miguel: Terutama terhadap nafsu keinginan. Dalam diri manusia ada tiga akar kejahatan yang sangat dominan, yang sering tanpa sadar menguasai kita.
Apa saja tiga akar kejahatan itu?
Miguel: Kebencian, keserakahan, dan ketidaktahuan. Pengendalian diri berarti bagaimana kita bisa menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam tiga hal tersebut.
Peran kebijaksanaan?
Miguel: Kebijaksanaan adalah bagian penting dalam ajaran Buddha, dan merupakan salah satu unsur dari Jalan Mulia Berunsur Delapan. Kebijaksanaan itu tidak muncul secara tiba-tiba, tapi didapat melalui proses belajar, berlatih, setelah melalui proses itu, barulah seseorang memperoleh kebijaksanaan, yakni kemampuan untuk melihat sesuatu apa adanya.
| Normalisasi Israel Picu Penolakan Publik di Kawasan |
|
|---|
| Iran di Persimpangan: Politik, Agama dan Suksesi Ali Khamenei |
|
|---|
| Cerdas Kendalikan Hama: Ingat, Tikus Itu Cerdas dan Adaptif |
|
|---|
| Cerita Herdianto Marzuki Ketua DPRD Morowali, Alumnus UMI Pilih Ngekos 2 Periode |
|
|---|
| Kunci Haji Mabrur: Jaga Niat, Pulang Jadi Pribadi Bermanfaat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/HARI-RAYA-WAISAK-Ketua-Vihara-Girinaga-Pdt-Roy-Ruslim-dan-Wakil-Ketua-3-DPD-Walubi.jpg)