Opini Muhammad Suryadi R
Make Indonesia Great Again
Kekayaan itu bisa kita lihat dari ragam kebudayaan yang ada. Bahkan, beberapa di antarnya telah diakui UNESCO sebagai warisan Kebudayaan Tak Benda.
Dalam catatan sejarah, nama Indonesia secara antropolgi pertama kali dipopulerkan oleh Adolf Sebastian sebagai nama identitas bangsa ini secara geografis dan politik.
Nama Indonesia yang diadopsi Sebastian adalah nama “Indunesian” yang sebelumnya telah disebut oleh George Samuel Windsor Earl dan dipungut kembali oleh James Richardson Logan hingga akhirnya dipopulerkan oleh Adolf Sebastian (kompas.co.id/22/08/2020).
Indonesia secara geografis adalah wilayah yang membentang dari Pulau Sumatera sampai Pulau Papua.
Kendati, penyatuan secara geografis ini lemah, karenanya seluruh gugusan pulau mesti dipersatukan secara politik ke dalam satu naungan yang bernama negara dan bangsa Indonesia (nasionalisme).
Soekarno dalam bukunya Nasionalisme, Islamisme, Marxisme, menjelaskan perihal bangsa.
Bahwa nasionalisme bukan hanya bahasa, agama, dan batas-batas wilayah, melainkan sebuah iktikad bersama, keinginan menjadi satu tanpa mengecilkan satu golongan dan keinginan hidup menjadi satu (Soekarno, 2021).
Dalam catatan sejarah pra-modern, terutama dalam catatan Kerajaan Majapahit, kira-kira abad ke-14 M, kepulauan yang kita sebut Indonesia saat ini dulunya merupakan wilayah yang memiliki kekuasaan yang membentang dari semenanjung Malaya hingga ke Asia Tenggara.
Dalam catatan Yudi Latief dalam bukunya Negara Paripurna, menyebutkan bahwa Nusantara yang merupakan nama wilayah kekuasaan era Majapahit ini adalah kerajaan laut terbesar diantara bangsa-bangsa di dunia dan ditakuti oleh pelaut-pelaut asing.
Nusantara kala itu bukan hanya kekuatan darat, tetapi juga kekuatan laut yang bergerak dari selatan ke utara yang mengikuti naluri atau sistem kerajaan yang bergerak dari bawah ke atas angin bersama cita-cita dan kehidupan masyarakatnya (Yudi Latif, 2011).
Nama Nusantara sendiri diperkenalkan pertama kali oleh Gajah Mada dalam sumpah Palapa yang menyebutkan “lawun humus kalah Nusantara isun amukti palapa”, artinya “saya tidak akan melepaskan puasa sebelum menaklukkan Nusantara” (Agus Sunyoto, 2012).
Peradaban Nusantara di masa lalu menunjukkan kekokohan peradaban kita.
Jauh sebelum peradaban Majapahit, kerajaan Dwipantara pada abad ke-13 yang dipimpin Raja Kertanegara, raja terakhir Singasari, telah lebih dulu memiliki peradaban kuat.
Visi menyatukan wilayah kerajaan Singasari ke dalam satu wilayah kekuasaan maritim yang dikenal dengan sebutan politik Cakrawala Mandala.
Kini, visi ini diadopsi menjadi suatu wawasan kebangsaan atau landasan geopolitik Indonesia dengan istilah Cakrawala Mandala Dwipantara.
Selain itu, peradaban bangsa kita tak hanya kuat secara geopolitik, tapi juga besar dengan peradaban literasi.
| Cuaca Ekstrem Picu Longsor di Malino dan Kawasan Kecamatan Dataran Tinggi Gowa |
|
|---|
| Anak 10 Tahun di Biringkanaya Makassar Meninggal Usai Jatuh ke Gorong-gorong |
|
|---|
| 23 Januari, Luwu Raya Tagih Janji Negara, Desak Pemekaran dan Keluar dari Sulsel |
|
|---|
| Pengamat: RMS Pindah ke PSI, Tantangan Bagi Kader Nasdem |
|
|---|
| Dokkes Polda Sulsel: Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR di Pangkep Butuh Ketelitian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Suryadi-R-65.jpg)