Opini
Manusia, Agama dan Krisis Ekologi
Penulis ingin memulai melihat masalah ini melalui konsep hibriditas yang diperkenalkan oleh Sarah Whatmore.
Oleh: Nita Amriani
Mahasiswa Magister Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada 2024
TRIBUN-TIMUR.COM - APAKAH alam diciptakan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia?
Pertanyaan ini menjadi awal pemantik dalam melihat peran manusia dan agama dalam krisis ekologi.
Penulis ingin memulai melihat masalah ini melalui konsep hibriditas yang diperkenalkan oleh Sarah Whatmore.
Whatmore dalam karyanya yang berjudul “Hybrid Geographies: Natures, Cultures, Spaces”, menggambarkan manusia dan alam sebagai komponen yang tidak bisa dipisahkan dan saling berhubungan.
Namun, narasi dualisme antara alam dan manusia terus berkembang dalam masyarakat. Manusia dianggap sebagai “subject” atau “materi” dan alam sebagai “object” atau “non-human”.
Olehnya, manusia memiliki posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan alam (non-human) dan manusia memiliki kewenangan untuk mengeksploitasi alam sesuka hatinya.
Konsep antroposentris yang diadopsi oleh sebagian manusia menjadi awal kerusakan alam.
Isu “climate change” atau “perubahan iklim” menjadi salah satu contoh kerusakan yang diakbitkan oleh manusia.
Meskipun perubahan ini merupakan bagian dari proses alami yang salah satunya disebabkan oleh siklus matahari.
Namun diperkirakan perubahan ini akan melonjak cepat sejak tahun 1800-an yang dipicu oleh aktivitas manusia, misalnya
pembakaran bahan fosil seperti gas alam, minyak bumi, batu bara yang banyak digunakan oleh industri (United Nations, 2022).
Akibat dari aktivitas tersebut, kita terancam mengalami krisis air, pangan, pemanasan global, hingga tenggelamnya 85 persen wilayah perkotaan dunia yang berada dipinggiran pantai.
Manusia dan Krisis Ekologi
Apa penyebab ideologis yang membuat manusia menjadi spesies yang paling mengancam kelestarian ekologi?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Nita-Amriani-5.jpg)