Kolom Muhary Wahyu Nurba
Lebih Indah dari 1000 Bulan
Para malaikat turun ke bumi bershaf shaf, membawa berlimpah keberkahan, menyambut setiap doa yang dipanjatkan. Di malam Lailatul Qadar ….
Oleh: Muhary Wahyu Nurba
Redaktur Magrib.id/alumnus Fakultas Sastra Unhas".
TRIBUN-TIMUR.COM - Majelis cahaya itu waktunya di dua pertiga malam. Waktu paling utama untuk mengadukan segala kegundahan sekaligus melunaskan kerinduan kepada Allah SWT.
Di waktu khusyuk nan bening itu kita datang bersimpuh, mengakui kehinaan diri, bersujud ke bumi. Kita berserah diri sekaligus sebagai bukti pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Allah, penguasa alam semesta yang tak terbandingkan oleh apapun, yang meniupkan sekaligus menggenggam ruh kita.
Kita sepatutnya terus belajar mengenali hakekat penciptaan kita, mencari petunjuk terbaik agar tidak tertipu oleh semak belukar duniawi, sehingga bersihlah jalan kembali ke kampung akhirat. Disebutkan dalam al Quran, bahwa dunia ini sesungguhnya hanyalah kesenangan yang menipu, kesenangan yang membuat kita terlena dan melupakan tujuan kita yang sebenarnya. Wa mal hayatudduniyaa illaa mata’ul gurur. (QS Al Hadid: 20)
Sedetikpun janganlah kita terputus dan terlepas dari rahmat Allah. Alirkan dzikir yang tercipta dari kerinduan dan pengharapan yang besar akan ampunanNya. Butiran airmatayang berasal dari qalbun salim pastilah tahu kemana ia akan menuju, melayang dan menyentuh arasy. Segala hajat kita menggaung dan terdengar di antara para malaikat yang setiap malam menanti suasana yang penuh haru ini.
Inilah bulan Ramadan, bulan yang penuh kemuliaan. Di dalamnya ada satu malam yang begitu megah, begitu indah, bahkan lebih baik dari 1000 bulan. Para malaikat turun ke bumi bershaf shaf, membawa berlimpah keberkahan, menyambut setiap doa yang dipanjatkan. Di malam Lailatul Qadar, doa doa begitu mudahnya dikabulkan dan pahala dilipat gandakan.
Nabi mengatakan, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR Bukhori). Kita sepatutnya memaksimal setiap kesempatan untuk mencari saat saat mendebarkan itu, meski kepastian di malam ganjil yang ke berapa masih menjadi terus perdebatan.
Abu Sa’id al-Khudri RA, salah seorang sahabat Rasulullah dari kaum Anshar, yang semasa hidupnya menjadi salah satu periwayat hadis terbanyak, pernah berkata: “Maka muncullah tanda-tanda mau hujan di malam tersebut, lalu turunlah hujan. Lalu hujan masuk melalui sela-sela atap masjid pada malam 21. Lalu mataku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku melihat beliau selesai sholat subuh dan wajah beliau penuh dengan air dan becek” (HR Bukhori). Atas dasar inilah diyakini bahwa malam Lailatul Qadar turun di malam ke 21.
Adapun Ubay bin Ka’ab RA, sahabat yang dikenal sebagai seorang qari dan diberi tugas oleh Rasulullah SAW untuk mengumpulkan Al-Qur'an, juga pernah bersumpah tentang datangnya malam Lailatul Qadar itu secara pasti, yaitu malam ke 27 dari bulan Ramadan. Ketika dimintai bukti dari pernyataannya itu, beliau berkata, “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu matahari terbit pada pagi harinya tanpa sinar yang terik.” (HR Muslim)
Terlepas dari kapan saat itu terjadi, kita sebaiknya lebih fokus mempersiapkan dan memantaskan diri, apakah kita memang termasuk hamba yang sungguh menginginkan Lailatul Qadar. Artinya, kita telah mengembuskan kalimat istighfar, tasbih, tahmid, takbir, dan tauhid, bemunajat dengan sungguh sungguh, merenungi kebesaran Allah dan segala ciptaanNya, sehingga kita akan sefrekuensi dengan sinyal Lailatul Qadar.
Ada satu doa yang bisa kita petik ketika Aisyah RA bertanya kepada sang suami tercinta, Nabiullah Muhammad SAW. Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, apabila saya menjumpai malam Lailatul Qadar, bagaimana saya harus berdoa?"
Rasulullah SAW, menjawab, "Katakanlah: Allahumma innaka affuwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka maafkan aku." (HR Ahmad).
Dalam hadits yang lain, diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa siapa yang melaksanakan atau menghidupkan ibadah di malam Lailatul Qadar akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT.
Man qoma lailatul Qadari iimaanaw wahtisaaban, ghufrolahuu, maa taqoddama min dzambih. Artinya: Barang siapa menghidupkan (beribadah) pada malam Lailatul Qadardengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Di hari hari akhir bulan Ramadan ini, sepatutnya kita semakin meningkatkan kualitas ibadah kita, semakin memperpanjang i’tikaf kita. Kita hidupkan Qiyamul Lail, mendaras al Quran, dengan pengharapan tinggi akan datangnya Lailatul Qadar menghampiri kita. Tidak boleh sedikipun kita berputus asa sebab Allah maha tahu siapa yang paling siap di antara kita, yang paling menginginkan malam terindah itu, sebuah malam yang lebih indah dari 1000 bulan. Kita berdoa semoga selepas Ramadan ini kita menjadi pribadi pribadi dengan akhlak yang indah dan terbarukan, sebagaimana kerinduan kita untuk menyaksikan indahnya malam Lailatul Qadar. Kita menjadi pemilik hati yang lembut, yang gandrung dengan amal amal kebaikan dan menutup erat pintu pintu kemaksiatan.
Semoga kita tidak termasuk golongan yang berpuasa seperti ular, sebelum dan sesudah berpuasa, sifat dan tingkah lakunya masih tetap ular. Kita berdoa agar digolongkan orang berpuasa seperti ulat, yang berpuasa, mengurung diri dalam kepompong, menjelma menjadi kupu kupu yang indah, terus menginspirasi dengan kepakan sayap kemuliaan, dan hanya memilih makanan yang baik dan murni (halalan thoyyiban) berupa saripati bunga, menghindari makanan perusak badan dan hati, apalagi yang terbuat dari bahan bahan yang dioplos oleh mereka, yang dengan lihai dan sadar mencampurbaurkan antara yang halal dan yang haram.Naudzubillah tsumma naudzubillah!(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhary-Wahyu-Nurba-_2025.jpg)