Kolom Muhary Wahyu Nurba
Ramadan Stasiun Ketenangan
Kita yang masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan megah ini, sepatutnya tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk berdoa.
Oleh: Muhary Wahyu Nurba
Penjaga gawang Magrib.id.
TRIBUN-TIMUR.COM - Bulan Ramadan telah hadir kembali di tengah tengah kita. Dari tahun ke tahun, sebenarnya apa yang kita rasakan dengan hadirnya bulan Ramadan? Seberapa rindu kita kepada bulan Ramadan?
Bagai dihiasi jutaan cahaya bintang, Ramadan datang menemui kita. Kehangatannya menyinari jalan-jalan sunyi dan hati yang merindukan datangnya bulan mulia ini. Seolah permata yang bertaburan, memancarkan kedamaian dan ketentraman. Angin berembus pelan seketika suara adzan dikumandangkan, memanggil jiwa jiwa yang letih untuk bersujud. Jamaah bershaf shaf khusyuk bagaikan lukisan, bergerak bersama penuh keagungan, menyatukan hati mencari ridho Allah. Bulan Ramadan datang menyentuh setiap hati, menawarkan kelembutan, kesabaran, keikhlasan, dan ketaqwaan.
Mereka yang senantiasa merindukan Ramadan, hatinya pasti akan bergetar hebat, terharu disebabkan rindu yang teramat dalam, rindu yang menyelimuti jiwa. Bukan sekadar kerinduan biasa, bukan kerinduan kepada manusia, melainkan kerinduan akan bulan yang penuh berkah, ampunan, dan rahmat dari Allah azza wa jalla. Rugi sungguh rugi mereka yang lalai dan melewatkannya begitu saja tanpa memaksimalkan ibadah, mengalir bersama irama pelantun tadarrus al Qur’an.
Ramadan memang didesain oleh Allah sebagai sebagai stasiun ketenangan, sebagai halte tempat membasuh penat kehidupan setelah sebelas bulan kita berlumur dosa. Kata rasulullah Muhammad SAW, setiap anak Adam, pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang bersalah adalah yang bertaubat. (HR Tirmidzi). Ramadan menjadi kesempatan emas bagi kita kaum muslimin untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah lalu. Pintu ampunan Allah SWT terbuka lebar, selebar lebarnya, menanti siapapun hambaNya untuk bersimpuh, kembali bertaubat kepadanya.
Setiap detak detik waktu di bulan Ramadan ini dipenuhi dengan keberkahan. Pahala dilipatgandakan, kedamaian meliputi hati. Ramadan merupakan momen untuk mempererat tali silaturahmi, berbagi kebahagiaan, makanan, minuman, menikmati bersama berkah dalam sajian takjil, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Di bulan ini, semua manusia sepatutnya berbahagia dan saling membahagiakan, saling memaafkan, karena tahun depan Ramadan belum tentu akan menemui kita lagi.
Kita yang masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan megah ini, sepatutnya tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk berdoa. Justru di bulan inilah setiap doa akan diijabah oleh Allah subhana wa ta’alaa. Yuhibbu man athaa’ah, wa yujiibu man da’ah. Dia mencintai siapa saja yang taat kepadaNya. Dia mengabulkan siapa saja yang berdoa kepadaNya.
Panjatkan doa terbaik. Siang maupun malam adalah waktu waktu mustajab. Kata Rasulullah SAW, salah satu doa yang tidak tertolak adalah orang orang yang sedang berpuasa (HR Al Baihaqy). Para ulama menganjurkan kita agar memohon selain hajat hajat duniawi, agar kita utamakan memohon ampunan, dijauhkan dari maksiat, diselamatkan dari api neraka. Allahumma innaa nas-aluka ridhoka waljannah, wa na'udzuubika min sakhotika wannaar. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridhoan-Mu, surgaMu, dan kami berlindung dari murka-Mu dan siksa neraka. Kita berdoa agar diberi sisa umur yang barokah dalam ketaatan yang kaffah. Allahumma a’innii alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ibaadatik.
Mari kita maksimalkan seluruh potensi ilahiah dalam diri kita, berdoa agar diwafatkan sebagai seorang muslim, bukan sebaliknya, mati dalam keingkaran, menutup diri dari kebenaran Islam. Kita berdoa semoga kita mendapatkan hadiah terbaik berupa husnul khotimah dan kelak dikumpulkan bersama orang orang soleh. Aamiin.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhary-W-Nurba_2025.jpg)