Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Dialog Budaya

Tradisi Puasa Berbagai Agama Ritual Tua, Bukan Sekadar Pindahkan Jam Makan

Lebih dari sekadar menahan lapar, puasa "latihan" fisik untuk menjaga mental dan spiritual, menghubungkan manusia dengan alam, tuhan dan manusia.

Tayang:
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM/Erlan Saputra
DIALOG BUDAYA - pembicara dan peserta berfoto bareng usai dialog kebudayaan di Kantor Tribun Timur, Jl Cenderwasih, Makassar, Kamis (6/3/2025) sore. Gerakan Kedaulatan Budaya 2025 kembali menggelar Dialog Budaya dirangkaikan buka puasa bersama. 

Bahkan semua makhluk di bumi pun berpuasa.

"Induk ayam, saat mengerami telur-telurnya, berpuasa lebih dari dua pekan. Ia tak makan, tak minum, tetapi tubuhnya tetap panas demi melindungi calon anaknya," kata mantan Ketua DPW PKB Sulsel ini.

Puang Makka melanjutkan, pohon kaktus juga berpuasa, menahan air saat kemarau, dan justru saat itulah durinya semakin tajam—sebagai bentuk pertahanan diri.

Dalam dialog budaya ini, Puang Makka memilih tak membicarakan puasa dalam ranah syariah.

Puasa bagi Muslim adalah rukun Islam keempat, setelah syahadat, shalat, dan zakat. 

Rukun kelima berhaji bagi yang mampu. 

Dia berbicara dalam kerangka universalisme dan instrumen puasa.

Digambarkan, saat belum ada arloji atau teknologi pengenal waktu, pepuasa, menggunakan unggas ayam untuk menandai imsak dan buka puasa.

"Saat ayam sudah bertengger di pohon lepas sore, dan ayam jantan berkokok dua kali di Fajar shadik itu pertanda imsak." ujar Puang Makka

Diketahui, ada lima belas organisasi, lembaga berafiliasi budaya bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulsel, Kamis (6/3/2025) petang.

Mereka menginisiasi dialog budaya bertema Tradisi Puasa Berbagai Agama di aula 4 Tribun Timur, Jl Cenderwasih 430, Sambung Jawa, Mariso, Kota Makassar.

Panitia menghadirkan tiga tokoh lintas agama; AGH A Rahim Asseggaf Puang Makka (Islam), Dr Ir Yongris Lao MM (Budha), dan Darius Allo Tangko, Keuskupan Agung Makassar(Katolik).

Majjhima Patipada: Ajaran Buddha Berkecukupan

Dalam ajaran Buddha, Majjhima Patipada atau Jalan Tengah adalah prinsip keseimbangan yang menghindari ekstremitas.

Baik dalam kesenangan duniawi yang berlebihan maupun penyiksaan diri.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved