Dialog Budaya
Tradisi Puasa Berbagai Agama Ritual Tua, Bukan Sekadar Pindahkan Jam Makan
Lebih dari sekadar menahan lapar, puasa "latihan" fisik untuk menjaga mental dan spiritual, menghubungkan manusia dengan alam, tuhan dan manusia.
Penulis: Erlan Saputra | Editor: Alfian
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Puasa adalah ritual tua yang seumur dengan peradaban manusia di muka bumi.
Lebih dari sekadar menahan lapar, puasa merupakan "latihan" fisik untuk menjaga mental dan spiritual, menghubungkan manusia dengan alam, keabadian Tuhan, dan kemaslahatan peradaban manusia.
"Jauh sebelum Siddharta Gautama (abad ke-5 Sebelum Masehi) mengamalkan puasa Atthasila (Delapan Sila), peradaban tua serta nabi dan rasul sebelumnya sudah menjalankan puasa," ujar Dr Ir Yongris Lao.
Tokoh Buddhis Indonesia Timur sekaligus Ketua Permabudhi Sulsel itu hadir dalam #8 Dialog Budaya bertema Tradisi Puasa Berbagai Agama di Aula 4 Tribun Timur, Jl Cenderawasih 430, Sambung Jawa, Mariso, Kota Makassar, Kamis (6/3/2025) sore.
Sebelum menjadi Buddha, Siddharta Gautama bertapa dan berpuasa di bawah Pohon Bodhi, Bodh Gaya, India.
"Saking kurusnya, konon perut dan punggung Siddharta seolah menyatu karena puasa—menahan segala nikmat duniawi," tambah Yongris Lao.
Baca juga: Tokoh Katolik Makassar Darius Allo Tangko: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menguatkan Iman
Ritual bertapa, berpuasa, dan menenangkan jiwa tidak hanya dilakukan oleh Siddharta, tetapi juga oleh umat agama langit (Samawi) dan para penganjur kebaikan dari berbagai keyakinan lainnya.
Tradisi Puasa Umat Katolik
Tahun ini, awal pekan Ramadan 1446 H bertepatan dengan Rabu Abu (5 Maret 2025), ritus awal puasa bagi umat Katolik sebelum Jumat Agung (18 April 2025) dan Paskah (20 April 2025).
Setiap hari Jumat selama masa Prapaskah, umat Katolik menjalankan puasa dengan tradisi tersendiri.
"Selama 40 hari kami berpuasa dan berpantang dari kenikmatan duniawi untuk merasakan penderitaan Tuhan Yesus sebelum disalib di Jumat Agung," ujar Darius Allo Tangko (63), perwakilan Keuskupan Agung Makassar dari Paroki Santo Yakobus Mariso.
Namun, ada perbedaan dengan puasa umat Islam.
"Puasa Katolik masih memperbolehkan makan dan minum, tetapi tetap dalam batasan. Tradisi ini diatur langsung dari Roma," jelas Darius.
Dr Yongris Lao menambahkan bahwa umat Katolik membatalkan puasanya hanya dengan niat dan ucapan, berbeda dengan umat Muslim yang berbuka dengan makanan dan minuman saat azan Magrib.
Dalam kesempatan yang sama, mantan Mustasyar PB Nahdlatul Ulama (NU) dan pendiri RAS Institute, Puang Makka menegaskan kesamaan puasa dengan umat-umat terdahulu.
| Mengurai Pro-Kontra Haji Bugis, Prof Idham Bodhi: Mappatoppo Adalah Tradisi Bukan Rukun |
|
|---|
| Dialog Budaya Kupas Tuntas Tradisi Mappatoppo: Haji Bugis dalam Perspektif Budaya |
|
|---|
| Dialog Budaya ke-9: Menelusuri Makna Puasa dalam Perspektif Berbagai Agama |
|
|---|
| Tokoh Katolik Makassar Darius Allo Tangko: Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tapi Menguatkan Iman |
|
|---|
| Tribun Timur Jadi Tuan Rumah Dialog Gerakan Kedaulatan Budaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/DIALOG-BUDAYA-pembicara-dan-peserta-berfoto-bareng-usai-dialog-kebudayaan.jpg)