Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Muammar Bakry

Ramadan dengan Cinta 4: Zuhud Cinta

Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

|
Editor: Sudirman
DOK TRIBUN TIMUR
Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf dan Rektor Universitas Islam Makassar, Prof Dr Muammar Bakry Lc MA. Dalam Ramadhan 2025 atau Ramadhan1446 H, Muammar Bakry menulis kolom Ramadhan dengan Cinta seriap hari yang diterbitkan di Tribin Timur cetak. 

Oleh: Muammar Bakry

Imam Besar Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf

TRIBUN-TIMUR.COM - Manusia dihiasi cinta terhadap perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.

Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

Ayat di atas menggunakan kata kerja pasif “dihiasi”, pelaku (fa’il) disamarkan karena pelakunya memungkinkan satu di antara dua yang berpengeruh.

Jika pengaruh positif yang dominan, maka kecintaan pada lawan jenis, anak dan properti diperoleh dan dimanfaatkan dengan bertanggung jawab dan sesuai dengan norma agama.

Namun jika pengaruh negatif dan bisikan setan yang dominan, maka cara memperoleh dan memanfaatkannya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam pandangan agama Islam.

Jadi tergantung bagaimana mengelola dan mengarahkan kecenderungan naluri agar kita terhindar dari malapetka di dunia maupun di akhirat. 

Sa’ad bin Abi Waqqash meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda; ada empat kebahagiaan seseorang; istri yang salehah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.

Ada empat penderitaan manusia; istri yang jelek perangainya, tetangga yang jelek, kenderaan yang rusak dan rumah yang sempit.

Apa yang disebutkan Nabi di atas, dibreakdown dalam sepuluh Indeks kebahagiaan yang menjadi indikator kebahagiaan personal maupun secara komunal yaitu: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, dan kondisi keamanan.

Kegembiraan hidup yang dibahasakan dalam ayat al-Qur’an dengan “farihu bil hayatiddunya”, atau kesenangan dunia yang disebut dengan “mata’ duniya” adalah sunnatullah yang Allah tetapkan pada kehidupan manusia di dunia, jika manusia merasakan kenyamanan dan kesejahteraan dengan segala kenikmatan tersebut adalah hal yang sangat manusiawi.

Namun demikian, objek yang disebutkan di atas sangatlah relatif, sebab standard yang mungkin hampir pasti ada pada tiga hal yaitu; kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect) dan makna hidup (eudaimonia). 

Tiga hal di atas terutama dalam hal memaknai hidup adalah hal yang utama dalam menikmati cinta dunia.

Coba amati ungkapan Ibn al-Qayyim “jika harta ada di tanganmu bukan di hatimu maka tidaklah merusak dirimu sekalipun banyak, tapi kapan harta ada di hatimu sekalipun tidak ada yang kamu miliki maka itu merusak dirimu”.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved