Resensi Buku Sang Pembebas
Novel Sang Pembebas, Kisah Arung Palakka dari Sisi Lain
Novel yang memiliki 270 halaman itu menceritakan Raja Bone ke-15, Aru Palakka sebagai sang pembebas dari perbudakan.
Penulis: Kaswadi Anwar | Editor: Alfian
Hanya saja, kata dia, Prof Halilintar belum mengulas Karaeng Pattingalloang.
“Mungkin terburu-buru, waktu mepet sehingga masih banyak perlu dieksplorasi dengan baik, tapi di stop di situ,” terangnya.
Sementara Kritikus Sastra, Budayawan Sulsel, Andi Mahrus Andis menjelaskan, novel sejarah ada dua dimensi dihadapi, yaitu novel itu sebagai karya sastra dan misi kesejarahan yang ada dalam novel itu
Makanya, ada satu minggu ia membaca novel Sang Pembebas baru bisa menamatkan.
Lantaran ia harus dapat detail segmen-segmen kesastrawanannya yang terdapat dalam semiotika bahasa ini.
Dijelaskan juga sastra ada dua dimensi. Pertama sastra sebagai ilmu pengetahuan. Inilah yang digagas dosen bahasa dan sastra menganalisa dengan teori pendekatan.
Kedua sastra sebagai seni bahasa seperti novel. Jika memiliki waktu yang cukup bisa memberikan analisis semiotika yang berkaitan dengan bahasa buku ini dengan melihat sastrawi yang ada lewat pendekatan teori sastra.
Makanya, ketika Andi Mahrus melihat cover, layout hingga penggunaan gaya bahasa dalam novel Sang Pembebas bisa dinilainya hampir sempurna menjadi karya sastra.
Namun, ia tetap memberikan sejumlah kritikan, masukan dan saran terhadap beberapa bagian dari novel Sang Pembebas.
Kata dia, seandainya ada pengulangan buku ini bisa diedit ulang, perlu diperbaiki bahasanya, dikembangkan imajinasi di dalamnya sehingga novel ini tidak terlalu kering dan berbahasa sejarah.
“Sebagai karya sastra sudah bagus, tapi kalau mau lebih bagus sebagai bahan edukasi, disimpan di perpustakaan sekolah dan lainnya, buku dituliskan ulang dan dikembangkan gaya bahasanya lebih sastrawi dan mengembangkan imajinasi yang lebih bebas tanpa terikat dengan fakta sejarah,” tuturnya.
Ia melanjutkan, novel Sang Pembebas ini terlalu cenderung berbicara sejarah.
Perlu penambahan tokoh imajinatif yang tidak ada dalam sejarah sebagai bumbu penyedap.
“Itu bisa tokoh imajinatif, tidak ada dalam sejarah yang dikorelasikan dengan situasi sejarah waktu itu,” tambahnya.
Andi Mahrus juga mengkritik judul novel Sang Pembebas. Pasalnya, dalam desain covernya tertulis judul Sang Pembebas dan hanya disertai foto Aru Palakka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/BEDAH-BUKU-Penulis-Novel-Sejarah-Sang-Pembebas.jpg)