Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Bertahun-tahun Tanpa Diperhatikan, Kodim 1407 Bone Bangun Jembatan untuk Warga Awangpone

Sebelumnya warga Maccope, Awangpone, Kabupaten Bone mengandalkan jembatan bambu sederhana untuk akses utama sehari-hari.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Alfian
Tribun-timur.com/Wahdaniar
PERBAIKAN JEMBATAN - Dandim 1407/Bone, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus saat meninjau lokasi pembangunan jembatan di Awangpone, Minggu (19/4/2026). Akses terbatas bertahun-tahun, Kodim 1407 Bone bangun jembatan untuk warga Awangpone 

 

 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE - Warga Kelurahan Maccope, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, selama bertahun-tahun harus menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi jembatan yang jauh dari kata layak. 

Untuk menyeberangi sungai, warga hanya mengandalkan jembatan bambu sederhana yang rawan dan berbahaya.

Jembatan tersebut menjadi satu-satunya penghubung antarwilayah yang digunakan setiap hari oleh warga. 

Mulai dari petani yang mengangkut hasil panen hingga anak-anak yang berangkat ke sekolah, semuanya harus melintasi jembatan bambu tersebut.

Kondisinya semakin memprihatinkan saat musim hujan tiba. 

Debit air sungai yang meningkat membuat jembatan menjadi licin dan mudah bergoyang, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan.

Baca juga: Bersih-bersih Stadion Lapatau Bone Sambut Porprov Sulsel 2026

Meski demikian, warga tetap terpaksa melintas demi menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Tidak sedikit dari mereka yang harus menahan rasa takut setiap kali menyeberangi sungai.

Kepala Lingkungan Barang, Kelurahan Maccope, Jumardi, mengungkapkan bahwa kondisi semakin sulit ketika banjir datang. 

Dalam setahun, banjir bisa terjadi hingga tiga kali.

“Biasanya banjir datang di bulan Mei, Juni, dan Juli. Kalau sudah banjir, warga tidak bisa lewat dan harus memutar jauh,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (19/4/2026).

Ia menyebutkan, saat akses terputus akibat banjir, warga terpaksa menempuh perjalanan hingga sekitar 30 kilometer untuk mencapai tujuan.

“Kalau banjir, warga harus memutar sampai 30 kilometer. Ini tentu sangat menyulitkan, apalagi bagi petani dan anak sekolah,” tambahnya. 

Baca juga: Sebatang Kara Lelaki Lansia Dua Boccoe Bone Tinggal di Gubuk Reyot

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved