Opini Mubha Kahar Muang
Bani Israel dan Afganistan
Kelak walau telah beragama Islam, Pasthun, suku yang disebut sebagai Afghans tetap mengaku sebagai anak-anak Israel.
Menurut Kitab Majma’ul Ansab karya Khuda Dad,
putra Sulung Yakub adalah Yehuda,
putra Yehuda adalah Usrak,
putra Usrak adalah Aknur,
putra Aknur adalah Ma’alib,
putra Ma’alib adalah Farlai,
putra Farlai adalah Qes,
putra Qes adalah Thalut,
putra Thalut adalah Armea,
putra Armea adalah Afghan yang anak keturunannya menjadi bangsa Afghan.
Menurut A Nature of a Visit to Ghazni, Kabul and Afghanistan oleh G.T. Vigne, 1840, Afghan sejaman dengan Nebukadnezar penguasa Kekaisaran Babel. Dan baru pada generasi ke-34 dari Afghan barulah lahir Qes yang hidup sejaman dengan Nabi Muhammad SAW yang kemudian memeluk agama Islam.
Kelak walau telah beragama Islam, Pasthun, suku yang disebut sebagai Afghans tetap mengaku sebagai anak-anak Israel.
Dari uraian di atas tampak bahwa Bangsa Afghan adalah Bani Israel. Pandangan ini diperkuat oleh sebuah kitab sejarah yang diterjemahkan oleh peneliti Prof. Bernhard Doran dari Kharqui University, terbitan London tahun 1836. Kitab itu menjelaskan bahwa Bangsa Afghan berasal dari Israel, yaitu dari Raja Thalut dari putranya Armea.
Jadi sudah kuat fakta berdasar kitab-kitab sejarah, arkeologi dan antropologi bahwa Afghan berasal dari Bani Israil.
Beberapa tradisi suku Pasthun hingga saat ini sama dengan tradisi Israel kuno. Mereka menyunat anak pada usia delapan hari.
Mereka mematuhi larangan memasak dan memakan daging dan susu secara bersamaan, juga larangan memakan daging kuda dan onta.
Mereka berpakaian model Tzitzit dan menyalakan lilin pada Jumat malam.
Suku Pasthun juga memiliki tradisi menikahi janda kakak ipar yang belum memiliki anak yang merupakan tradisi Israel.
Afganistan mengalami beberapa kali penguasaan silih berganti.
Peradaban Iran mendirikan Kekaisaran Pertama di Afganistan tahun 700 SM.
Lalu Persia menginvasi dan memerintah dari 550 SM sampai 330 SM.
Selanjutnya Alexander Agung, Raja Makedonia dari Yunani menggulingkan kekuasaan Raja Persia dan menaklukkan seluruh kekaisarannya, termasuk Afganistan.
Setelah kematian Alexander Agung tahun 323 SM, Afganistan terbagi dua, Kerajaan Baktria-Yunani di wilayah bagian Utara dan wilayah Selatan dikuasai oleh Kekaisaran Maurya-India.
Setelah itu Kekaisaran Kushan, kemudian Kekaisaran Sasaniyah yang biasa juga disebut Kekaisaran Iran, berkuasa hingga abad ke-7 M sekaligus menandai masuknya Islam di Afganistan.
Dalam Kitab Tabaqat-i Nasiri disebutkan bahwa pada zaman Dinasti Syabnisi atau Sasania, di Afganistan tinggal satu kaum yang disebut Bani Israil sekitar tahun 622 M atau pada zaman Rasulullah SAW. Mereka menetap di kawasan Herat. Sahabat Nabi, Khalid ibn Walid r.a., datang menemui mereka dan menyeru mereka kepada Islam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Mubha-Kahar-Muang-2024.jpg)