Berapa Nahdliyyin dan Persyarikatan di Sulsel? Suara NU Lebih 3 Juta , Begini Hitung-hitungannya
Suara pemilih dari keluarga tentara dan polisi lebih solid dan terkonsolidasi ketimbang pemilih Muhammadiyah Sulsel dan NU Sulsel
Oleh: M Qasim Mathar
Cendekiawan Muslim/Pemerhati Demokrasi dan Peradaban
TRIBUN-TIMUR.COM - Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) per 30 Juni 2024 adalah 9.460.344 jiwa.
Berapa warga Muhammadiyah Sulsel dan Nahdlatul Ulama di Sulsel atau NU Sulsel, berapa pula yang punya hak suara dalam pilkada (pemilihan kepala daerah) provinsi Sulsel?
Benarkah bersatunya pemilik suara Muhammadiyah Sulsel dan NU Sulsel kepada satu cagub (calon gubernur) akan menjadikan cagub tersebut sebagai pemenang pilkada cagub Sulsel?
Karena keterbatasan saya, "Tidak ada data yang menyebutkan jumlah warga Muhammadiyah (persyarikatan) Sulsel, namun ada informasi mengenai Muhammadiyah di provinsi ini. Tahun 1941, ada 6.000 orang Muhammadiyah di Sulsel, 2.000 diantaranya adalah perempuan."
"Muhammadiyah menarik perhatian kaum pedagang, kaum ulama, kaum bangsawan, dan sebagian keturunan Arab. Muhammadiyah juga berkembang ke berbagai kota di pedalaman Sulsel." Kini, berapa warga Muhammadiyah Sulsel, saya tidak berani bikin hitung-hitungan.
Ada hitung-hitungan yang menyatakan bahwa seperdua penduduk Sulsel adalah berdarah NU. Ada tiga istilah bisa berbeda artinya.
Yaitu: NU biologis, NU kultural, dan NU struktural. NU biologis itulah yang berdarah keturunan orang NU.
NU kultural, bukan NU biologis.
Tapi, karena baca Barazanji, qunut di salat Subuh, selalu pakai sarung (sarungan), tarwih 20 rakaat, berfikhi Syafiiyah, berteologi Asyariyah dan lain-lain serupa itu, disebutlah ia orang NU kultural.
Adapun NU struktural, mereka yang duduk sebagai pengurus NU. Bukan karena keturunan. Bukan juga semata kultural, tapi juga ideologis, termasuk politik.
Klaim bahwa seperdua penduduk Sulsel berdarah NU didasarkan oleh hitung-hitungan:
"Pada tahun 1930, KH Ahmad Bone bersama Andi Mappanyukki dan ulama sejawatnya, pertama kali membentuk organisasi Rabitatul Ulama (RU), yang kemudian atas prakarsa kedua ulama tersebut bersama KH Muhammad Ramli, Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma, KH Saifuddin, Mansyur Daeng Limpo dan beberapa ulama selainnya, menjadikan RU sebagai NU pada 8 April 1950, atas restu KH Wahid Hasyim yang saat itu sebagai Ketua PBNU. KH Ahmad Bone terpilih sebagai Ketua NU pertama di Sulsel.
"Database PCNU, kepengurusan dari Mustasyar, Syuriyah, A’wan dan Tanfidziyah rata-rata 50 orang dikali 24 kabupaten/kota, ditambah badan otonom, dan lembaga sampai ke tingkat kecamatan (MWC) dan desa/kelurahan (Ranting) yang aktif berkisar 3.600 orang diakumulasi dengan jamaah Nahdliyyin di akar rumput dua kali lipat, yakni 7.200 orang kali 24 kabupaten/kota sebanyak 288.000. Ini belum termasuk pengurus di tingkat wilayah (PWNU) Sulsel lengkap dengan perangkatnya sebanyak 552, sehingga total tercatat 288.552 orang."
"Database perguruan tinggi NU Sulsel di bawah naungan Yayasan Al-Ghazali, UIM dan mahasiswanya STAI al-Gazali di Watampone, Soppeng, Barru, Bulukumba, semuanya berjumlah 13.441 orang. Jumlah sekolah/madrasah/pesantren Maarif NU Sulsel 102 unit, ditambah semua guru dan peserta didik, berkisar 899.000 orang. Ini belum dihitung jumlah alumninya dan termasuk alumni perguruan tinggi NU 13.441 dengan taksiran rendah dua kali lipat, mencapai 1.824.882.
NU Sulsel
Muhammadiyah Sulsel
Qasim Mathar
KH Ahmad Bone
Syekh Sayyid A DJamaluddin Assegaf Puang Ramma
Mansyur Daeng Limpo
KH Muhammad Ramli
Rabitatul Ulama
| Pesan dari Makam Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf dan Anregurutta Sanusi Baco di Harlah 92 GP Ansor |
|
|---|
| Tuhan Orang Islam dan Kristen di Ambon Sudah Mati |
|
|---|
| Jejak Kebesaran Persia Abadi di Bone Luwu hingga Jeneponto, Bukti Hubungan Iran-Sulsel Sedari Dulu |
|
|---|
| Ayo, ke Timur |
|
|---|
| Muhammadiyah Puji Langkah Sigap Polres Barru, Minta Kasus Pelarangan Ibadah Tetap Diusut |
|
|---|