Opini
Karakteristik Donald Trump, Ujian Ekonomi bagi Indonesia
Donald Trump terpilih kembali menjadi Presiden AS dan tercatat sejarah jadi presiden 2 periode yang tidak beruntun di Amerika Serikat. Kontroversial
Achmad Firdaus Hasrullah
Kandidat Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia
DONALD Trump terpilih kembali menjadi Presiden AS dan tercatat sejarah jadi presiden 2 periode yang tidak beruntun di Amerika Serikat.
Kontroversial, kata yang tepat untuk figur 78 tahun ini yang tidak hanya sebagai businessman tapi juga sebagai figur yang ingin mengembalikan marwah Amerika Serikat yang sesungguhnya (Make America Great Again) yang ditakuti oleh negara besar.
Dalam kampanyenya tahun 2024 ini, Donald Trump kembali menjanjikan ekonomi Amerika tumbuh lebih pesat, mengakhiri Inflasi, dan menaikkan pajak impor sambil mengurangi pajak domestik secara besar-besaran dengan nilai triliunan dolar.
Hal ini, dapat menimbulkan “turbulensi” dalam tatanan dunia.
Secara istilah, turbulensi diartikan sebagai keadaan bergejolak yang ditandai dengan kekacauan.
Oleh karena itu, gejolak tatanan dunia adalah salah satu keadaan tatanan regional dan global yang ditandai dengan suasana kacau atau tidak terkendali, atau nilai-nilai, aturan, hukum, di mana tindakan negara disepakati. dalam arti tidak lagi menghormati sistem adat global.
Kebijakan kontroversial Donald Trump tercermin dalam periode pertama didorong oleh karakternya dan kepribadiannya yang positif-negatif dan memiliki karakteristik kurang konsisten, sentimental, dan optimis.
Dengan demikian, ketiga unsur tersebut, telah mendorong munculnya kebijakan-kebijakan yang kontroversial di bidang politik dan ekonomi sehingga menimbulkan ketidakjelasan dalam tatanan regional dan global.
Secara politik, kebijakannya yang mengakui ibu kota Israel adalah Yerusalem, yang membuat konflik di Timur Tengah dan negara mayoritas Muslim kembali "Menyala" dan menyentil Korea Utara sebagai "Negara yang kerdil dan hanya mengandalkan satu nuklir saja" walaupun pada akhir masa jabatannya Trump mengajak pemimpin Korea Utara itu berjabat tangan secara formalitas.
Secara ekonomi, kebijakan atau proteksi perdagangan yang kontroversial dari Presiden Donald Trump menyebabkan gejolak dalam sistem perdagangan dan menyebabkan perang dagang.
Kebijakan tarif impor Amerika yang tinggi telah menyebabkan Tiongkok harus memutar otak dan banyak negara lain melakukan hal yang sama khususnya di negara di Asia.
Kebijakan Donald Trump mencerminkan kompromi antara kebijakan berfokus pada bagian dalam negeri (economic protectionism) Amerika Serikat, di satu sisi dan kebijakan mempertahankan pengaruh globalnya di sisi lain negara-negara di Asia menjadi khawatir karena kebijakan yang akan diterapkan kembali oleh Donald Trump.
Khususnya Indonesia yang masih berjuang untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen. Donald Trump menjadi Presiden maka terdapat potensi penguatan nilai tukar dolar Amerika terhadap Rupiah sebagai hasil dari pendapatan tarif yang mungkin dialokasikan untuk stimulus fiskal.
Tak dipungkiri Perang dagang Amerika lawan Tiongkok jilid II yang akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu.
Hal ini menjadi indikasi ujian bagi perekonomian Indonesia yang menjadikan Tiongkok dan Amerika hingga saat ini merupakan mitra dagang utama Indonesia.(*)
| Prespektif Syamril: Halal Bihalal |
|
|---|
| TAT, Gerbang Rehabilitasi Pecandu Narkoba |
|
|---|
| Fenomena "Profesor HC" di Sulawesi Selatan: Antara Penghargaan dan Degradasi Etika Akademik |
|
|---|
| Doughnut Economy yang Ideal Namun Tidak Realistis |
|
|---|
| Dari Larangan ke Gerakan: Membangun Pencegahan Merokok Remaja Lebih Kreatif dan Berbasis Komunitas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Achmad-Firdaus-Hasrullah-1-7112024.jpg)