Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengelola Diaspora Pelajar

Saat ini marak kita lihat viralnya postingan estetik diaspora pelajar di media sosial terkait kritik konstruktif kepada pemerintah.

Editor: Sudirman
Ist
Fadlyansyah Farid Husain, Ketua Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang)/ Mahasiswa Doktoral Hiroshima Univeristy, Jepang/Dosen Fakultas Kedokteran UNHAS 

Angka ini meningkat 21 persen lebih dibanding sepuluh tahun lalu.

Para diaspora yang tersebar di penjuru dunia memiliki potensi berupa wawasan, keterampilan, dan pengalaman berharga bagi pertumbuhan Indonesia dimasa mendatang.

Ironisnya, meskipun berpotensi besar, negara belum banyak mengoptimalisasikan potensi mereka.

Padahal diaspora pelajar dapat menjadi motor pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Pendidikan di luar negeri memberikan peluang bagi pelajar Indonesia untuk belajar dari sistem pendidikan terbaik, berinteraksi dengan budaya yang berbeda, dan mengembangkan pemikiran kritis serta inovatif dalam pendidikan formal atau informal.

Pengalaman belajar di luar negeri tidak hanya mengasah kemampuan akademik dan profesional mereka, tetapi juga memperluas perspektif global yang dapat diterapkan untuk memajukan Indonesia.

Dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, diaspora pelajar dapat menjadi sumber inovasi dan kreativitas yang siap memenuhi tuntutan pasar kerja modern dan industri 5.0 di dalam negeri.

Tantangan Diaspora untuk bekerja di dalam Negeri

Tiap tahunnya, terjadi kenaikan minat diaspora pelajar untuk kembali ke Indonesia pasca menyelesaikan pendidikannya.

Menurut survey Robert Walters (perusahaan perekrutan professional) dari 2021 ke 2023 terdapat peningkatan sejumlah 14 persen responden yang merencanakan bekerja ke Indonesia.

Ini menjadi angin segar bagi Indonesia, baik institusi pemerintah maupun swasta, dalam mempekerjakan SDM berwawasan global dan berkompeten dalam lingkup dunia kerja.

Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana memastikan bahwa pengalaman dan keahlian, baik softskill maupun hardskill yang diperoleh di luar negeri dapat diintegrasikan dengan efektif dalam konteks pembangunan nasional.

Masih ada gap antara kemampuan diaspora pelajar dengan kebutuhan pasar kerja di Indonesia.

Penyebabnya karena kurangnya sinkronisasi antara kebijakan pendidikan nasional dengan tren dan kebutuhan global.

Untuk mengatasi hal ini, diperlukan sinergi yang lebih erat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan industri.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved