Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hoegeng Awards

Sosok Bripka Nurmansyah Brimob Sulsel, Kandidat 3 Besar Hoegeng Awards

Bripka Nurmansyah, dengan rela menyulap tempat tinggalnya menjadi rumah singgah..

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Sukmawati Ibrahim
dok pribadi
Potret personel Brimob Polda Sulsel Bripka Nurmansyah dan aksi sosialnya dalam mendirikan rumah singgah serta ambulans gratis untuk masyarakat kurang mampu yang berobat di Kota Makassar.   

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Aksi sosial ala Brigadir Kepala (Bripka) Nurmansyah, patut dicontoh.

Personel Sat Brimob Polda Sulsel Bripka Nurmansyah banyak membantu masyarakat yang kesulitan.

Utamanya, masyarakat asal luar Kota Makassar yang datang berobat namun tidak mempunyai rumah atau kerabat untuk disinggahi.

Bersama sang istri, Fifi Elvira( guru) Sekolah Dasar (SD), Bripka Nurmansyah, dengan rela menyulap tempat tinggalnya menjadi rumah singgah.

Yaitu rumah singgah bagi pasien luar daerah yang berobat di rumah sakit Kota Makassar.

Lokasinya di Perumahan Bung Permai, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.

Baca juga: Kesan 2 Sosok Srikandi Ditlantas Polda Sulsel Lancarkan Arus Kendaraan Delegasi KTT WWF Bali

Tempat tinggal sementara bagi pasien dan pendampingnya itu, dinamai Rumah Singgah Sigap.

"Alhamdulillah sekarang kami melayani pasien Rumah Sakit Wahidin, Pusat Jantung Terpadu (PJT), RS Unhas, Rumah Sakit Private Care Center (PCC), Ibnu Sina dan Primaya," kata Nurmansyah kepada tribun-timur.com, Minggu (2/5/2024).

Dengan delapan kamar yang disediakan, Rumah Singgah Sigap, mampu menampung ratusan pasien beserta pendampingnya.

"Untuk saat ini jumlah pasien yang telah kami tampung sebanyak 125 pasien, sebanyak 154 pendamping pasien. Jadi total 279 penerima manfaat rumah singgah sigap," ujarnya.

Pasien dan pendamping yang tinggal di Rumah Singgah Sigap, lanjut Nurmansyah, tidak dibatasi waktu.

Bahkan, kata ayah satu orang anak ini, ada yang tinggal hingga setahun lebih.

"Pasien yang tinggal di Rumah Singgah Sigap tidak kami batasi jangka waktu menempati rusing (rumah singgah), pasien kami yang terlama ada sampai 1,5 tahun dan yang paling sebentar 1 bulan," terangnya.

Selama tiga tahun terakhir mendirikan Rumah Singgah Sigap, total pasien meninggal dunia sebanyak 26 orang.

Pasien yang nyawanya tidak tertolong lagi, tetap dilayani Rumah Singgah Sigap hingga ke kampung halama

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved