Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Tiket Pesawat Makin Mahal, Sektor Pariwisata Sulsel Tertekan

Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur akan membuat sektor pariwisata terancam lesu.

TRIBUN TIMUR/Andi Bunayya Nandini
BUNTU PASANG - Suasana kawasan wisata Buntu Pasang Palopo di Kelurahan Peta, Kecamatan Sendana, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, saat malam hari. Destinasi wisata baru ini menawarkan panorama indah Kota Palopo dari ketinggian serta fasilitas area berkemah. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur akan membuat sektor pariwisata terancam lesu.

Dampak paling terasa datang dari lonjakan harga tiket pesawat yang menjadi komponen utama dalam perjalanan wisata.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulawesi Selatan, Didi Leonardo Manaba, menyebut kenaikan avtur secara otomatis akan mendorong kenaikan harga tiket pesawat yang sulit dihindari.

“Kalau berbicara soal avtur, kita mengacu pada maskapai. Kenaikan ini pasti berdampak ke seluruh komponen, termasuk harga tiket pesawat, dan itu sudah mutlak,” kata Didi di Makassar, Selasa (7/4/2026).

Menurut Didi, harga tiket menjadi faktor pertama yang selalu dipertimbangkan wisatawan sebelum memutuskan melakukan perjalanan.

Dalam banyak kasus, harga tiket bahkan bisa lebih mahal dibandingkan paket wisata ditawarkan.

“Komponen pertama yang ditanyakan wisatawan adalah harga tiket. Ini sangat fluktuatif dan bisa lebih mahal dari paket tur. Ini yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga tiket tidak hanya berdampak pada jumlah perjalanan wisatawan, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga paket wisata secara keseluruhan.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat sektor pariwisata menjadi lesu.

Meski demikian, pemerintah telah menetapkan batas maksimal kenaikan harga tiket pesawat sebesar 13 persen.

Menyikapi hal tersebut, Asita Sulsel mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat promosi destinasi wisata.

“Kami akan lebih gencar mempromosikan objek-objek wisata yang menarik dan baru, serta meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi agar tetap diminati wisatawan,” jelasnya.

Upaya ini dilakukan agar pergerakan wisatawan tetap berjalan di tengah tekanan kenaikan biaya perjalanan.

Ia juga menekankan pentingnya perencanaan perjalanan yang biasanya dilakukan wisatawan jauh hari sebelumnya, serta pengaruh stabilitas ekonomi global terhadap keputusan berwisata.

Didi mengakui kondisi ini cukup dilematis bagi industri pariwisata.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved