Opini
Refleksi Tentara Ideal
Kebijakan tersebut menuai kritikan keras dari berbagai kalangan masyarakat sipil di luar lingkaran kekuasaan.
Oleh: Muhammad Nuzul Adri
Mahasiswa S2 Fisip Unhas
WACANA revisi draft UU TNI disepakati oleh semua fraksi di dalam parlemen terkait tentara aktif mempunyai peluang menempati posisi jabatan-jabatan sipil lembaga negara dan seluruh kementrian selama itu diperlukan.
Hal ini kembali memperlihatkan hegemoni militer masih dominan di kehidupan demokrasi dan mengindikasikan bahwa militer yang telah masuk ke barak pasca gelombang reformasi kembali digelarkan karpet merah oleh elit politik sipil untuk keluar dari barak.
Kebijakan tersebut menuai kritikan keras dari berbagai kalangan masyarakat sipil di luar lingkaran kekuasaan.
Bukan hanya itu, alih-alih demokratisasi yang sering di dengungkan setiap perhelatan general election.
Langkah yang diambil ini mencoreng cita-cita reformasi yang berdarah-darah menghapuskan dwifungsi militer.
Jika ditarik secara historis, bagaimana tentara selalu ikut andil di dalam pusaran politik dan senantiasa mengalami friksi yang tidak berujung.
Pasca Soekarno-Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang dipelopori oleh kaum muda progresif membuat kolonial belanda naik pitam dan tidak mengakui secara De facto kemerdekaan bekas negara jajahannya.
Belanda menurunkan pasukan militernya secara berangsur-angsur menginvasi kembali negara indonesia yang baru berusia dua bulan.
Mereka menguasai wilayah-wilayah vital di beberapa kota berkat bantuan tentara Inggris.
Gejolak perlawanan timbul dimana-mana dan paling radikal berhadap-hadapan dengan penjajah ialah laskar-laskar gerilya dengan gelora perlawanan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Slogan familiar pada saat itu “Hidup atau Mati”.
Peristiwa bersejarah ini populer juga disebut Revolusi Fisik 1945-1949 yang masih menjadi Discourse hingga sekarang dan tidak sedikit dijadikan bahan riset oleh peminat sejarah di dalam maupun luar negeri.
Cikal bakal tentara saat itu terbagi dari laskar-laskar gerilyawan di berbagai daerah, Milisi PETA bentukan Jepang dan bekas tentara KNIL bentukan kolonial belanda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Nuzul-Adri-Mahasiswa-S2-Fisip-Unhas-3.jpg)