Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Surutnya Inovasi dan Peran Pemerintah Dalam Menanggulangi Sampah di Makassar

Di Indonesia masalah sampah bukan lagi masalah yang baru, volume sampah yang terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan keterbatasan

Editor: Ari Maryadi
zoom-inlihat foto Surutnya Inovasi dan Peran Pemerintah Dalam Menanggulangi Sampah di Makassar
ISTIMEWA
Muhammad Arijal Mahasiswa Pascasarjana Teknik Lingkungan UNHAS

Oleh Muhammad Arijal
Mahasiswa Pascasarjana Teknik Lingkungan Unhas

MASALAH sampah perkotaan merupakan masalah yang selalu hangat diperbincangkan baik di negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia masalah sampah bukan lagi masalah yang baru, volume sampah yang terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan keterbatasan lahan untuk pembuangan akhir adalah masalah yang harus segera dipecahkan.

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktivitas manusia ditambah peningkatan populasi penduduk dan pertumbuhan ekonomi, apabila sampah-sampah tersebut dibiarkan akan terjadi penimbunan, kerusakan lingkungan. Sampah menjadi salah satu permasalahan di kota-kota besar karena banyaknya aktivitas harian yang pada akhirnya menghasilkan limbah berupa sampah.

Daerah perkotaan seperti Makassar merupakan daerah yang menghasilkan banyak sampah di antara kota-kota besar lain yang ada di Indonesia.

Kota Makassar dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,5 juta jiwa (BPS, 2023) menghasilkan sampah rumah tangga dan non-rumah tangga dalam jumlah yang signifikan. Rata-rata timbulan sampah di Kota Makassar mencapai 400 ton per hari, dengan komposisi sampah organik mencapai 60 persen dan sampah non-organik 40 % .

Tren pertumbuhan sampah memang terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan sampah setiap tahunnya mencapai 11.53 persen.

Meningkatnya produksi sampah setiap tahunnya dibarengi dengan pertumbuhan penduduk sebesar 1,30 persen per tahun. Jumlah sampah di atas pun diperkirakan tidak seluruhnya yang diangkut lalu berakhir di TPA, sisanya kemungkinan besar akan dibakar, dibuang ke sungai dan bahkan tidak tertangani.

Tumpukan sampah di jalanan, sungai, dan tempat-tempat umum menjadi pemandangan yang lumrah, mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Pemandangan yang sering dilihat yaitu masih ada sampah yang berserakan dan masih terlihat jelas di pelosok-pelosok jalan biasanya masih terlihat di pinggir jalan maupun masih banyak di pesisir pantai khususnya pantai losari yang merupakan salah satu objek pemandangan yang sering dilihat kini tidak enak untuk dipandang karena adanya sampah berserakan untuk itu pemerintah Kota Makassar hendaknya turun langsung untuk menangani permasalahan yang ada.

Padahal Kota Makassar mempunyai Perda Nomor 4 tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah, namun sampai sekarang, penanganan permasalahan sampah diyakini belum berhasil untuk mengurai permasalahan tersebut.

Bagi para pemerhati lingkungan hal ini tak lepas bagaimana paradigma dalam menghadapi persoalahan sampah yang digunakan oleh pemangku kekuasaan.

Dalam permasalahan sampah yang kompleks dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian signifikan.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, kurangnya kolaborasi dan inovasi dalam penanggulangan sampah menjadi hambatan utama dalam mencapai solusi yang berkelanjutan.

Sistem pengumpulan sampah di Kota Makassar masih jauh dari ideal. Jangkauan layanannya belum menjangkau seluruh wilayah, dan proses pengangkutannya pun tidak efisien.

Hal ini mengakibatkan banyak sampah yang terbengkalai, menjadi sarang penyakit dan mencemari lingkungan. Infrastruktur pengolahan sampah, seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tidak memadai dan tidak terawat dengan baik. TPA yang melampaui kapasitas, dan sampah yang tidak diolah mencemari tanah dan air di sekitarnya.

Kurangnya koordinasi dan kerjasama antar pemangku kepentingan, seperti pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, menjadi hambatan dalam mengatasi permasalahan sampah.

Masing-masing pihak memiliki peran dan tanggung jawab yang berbeda, namun kurangnya sinergi antar mereka menghambat efektivitas pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah di Makassar masih terpaku pada pendekatan tradisional seperti pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan di TPA. Pendekatan ini terbukti tidak efektif dalam jangka panjang dan tidak ramah lingkungan. Pengembangan teknologi pengolahan sampah yang inovatif dan ramah lingkungan masih minim dilakukan.

Hal ini menyebabkan ketergantungan pada teknologi lama yang kurang efisien dan berdampak negatif terhadap lingkungan. Bahkan riset dan kajian mendalam tentang permasalahan sampah di Makassar masih belum memadai dan kurang menjadi perhatian khusus dalam mendapatkan informasi dan data yang akurat untuk merumuskan kebijakan dan strategi yang tepat.

Masyarakat juga perlu dikritik atas kurangnya kesadaran dan partisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan tidak memilah sampah masih marak terjadi, menunjukkan rendahnya pemahaman masyarakat tentang dampak buruk sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.

Kurangnya edukasi dan sosialisasi dari pemerintah dan organisasi masyarakat sipil juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya kesadaran masyarakat. Masyarakat perlu didorong untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan terlibat aktif dalam kegiatan daur ulang dan menjaga kebersihan lingkungan.

Peraturan dan kebijakan yang mengatur tentang pengelolaan sampah di Kota Makassar masih belum kuat dan komprehensif. Sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran aturan sampah masih belum cukup tegas, sehingga tidak memberikan efek jera bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan kebijakan terkait pengelolaan sampah, dengan memberikan sanksi yang lebih tegas dan mengembangkan sistem insentif untuk mendorong masyarakat agar lebih taat terhadap aturan.

Permasalahan sampah di Kota Makassar adalah sebuah krisis yang kompleks dan membutuhkan solusi yang komprehensif. Upaya untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah, meningkatkan edukasi dan partisipasi masyarakat, mengembangkan teknologi pengolahan sampah, meningkatkan sinergi antar pemangku kepentingan, dan memperkuat regulasi dan kebijakan adalah kunci utama untuk mewujudkan Kota Makassar yang bersih, sehat, dan asri.

Masyarakat juga harus mengambil peran aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan terlibat dalam kegiatan daur ulang. Hanya dengan kerjasama dan komitmen bersama dari semua pihak, permasalahan sampah di Kota Makassar dapat diatasi dan kota ini dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved