Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Literasi Al-Qur’an

Mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat orang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari selanjutnya.

Editor: Sudirman
Ist
Muhammad Tariq, Alumnus UIN Alauddin Makassar, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir / Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial 

Oleh: Muhammad Tariq

Alumnus UIN Alauddin Makassar, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir / Pegiat Literasi dan Pemerhati Sosial

Momentum pada bulan Ramadan yang penuh dengan berbagai ibadah dan amalan dari pagi hingga malam hari, tentunya semua akan sadar pada bulan suci ini.

Mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat orang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari selanjutnya.

Dan kita semua benar-benar menjadi orang yang sibuk di dalam bulan Ramadan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amalan lainnya.

Bangun pada awal hari untuk salat malam dan sahur, kemudian siang hari dihiasi dengan bacaan al-Quran dan dakwah, belum lagi malam hari bercahayakan tarwih dan tadarus.

Semua kita lakukan dalam tempo sebulan penuh terus-menerus.

Sebuah kebiasaan tahunan yang nyaris tidak kita percaya bahwa kita bisa menjalaninya.

Sebagai umat beragama Islam tentu kita memahami al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam yang utama, karena itu al-Qur’an menjadi pedoman bagi umat manusia dalam segala hal, sehingga al-Qur’an sumber dari segala ilmu pengetahuan.

Sebagaimana wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang berupa perintah untuk membaca yang dalam era modern ini dikenal dengan istilah literasi.

Berangkat dari menurunnya minat baca masyararakat, terutama kaum muslimin, maka disini penulis mencoba mengeksplorasi literasi berdasarkan al-Qur’an

Dapat dikatakan bahwa literasi al-Qur’an merupakan keahlian yang dapat dipelajari dan dikembangkan.

Secara umum literasi al-Qur’an adalah kemampuan individu dalam membaca, memahami pesan-pesan yang disampaikan oleh al-Qur’an, serta memahami tujuan-tujuannya, riwayatnya dan ajaran-ajarannya, termasuk ajaran moral.

Pada dasarnya manusia tidak hanya diberikan pengetahuan melainkan insting atau naluri dasar, dan salah satunya adalah naluri ingin tahu.

Rasa ingin tahu inilah yang mendorong manusia untuk belajar dan meneliti rahasia penciptaan Allah swt yang ada di bumi dan di langit dengan mempergunakan potensi akal untuk bergiat literasi al-Qur’an sebagaimna penulis yang dimaksud sebelumnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved