Opini
Pendidikan Inklusif, Gender, dan Liberalisme
Tulisan berikut ingin memberikan pandangan terkait sebuah tulisan opini yang sangat menyentil terkait pendidikan inklusif bagi waria.
Oleh: Dr Suryani Syahrir ST MT
Dosen dan Pemerhati Sosial
PENDIDIKAN adalah hak setiap warga negara yang diatur dalam UU.
Beragam regulasi telah dibuat seolah untuk mengakomodir semua lapisan masyarakat. Namun, realitas berkata lain.
Banyak cerita pilu anak negeri yang sulit mengakses pendidikan secara layak.
Baik prasarana dan sarana, maupun mahalnya biaya sekolah. Mengapa demikian?
Tulisan berikut ingin memberikan pandangan terkait sebuah tulisan opini yang sangat menyentil terkait pendidikan inklusif bagi waria.
Opini dengan alur yang membawa pembaca seakan ingin membenarkan bahwa kelompok waria adalah kelompok yang
tidak mendapat akses pendidikan, baik formal maupun nonformal.
Sehingga penulis menyebutnya sebagai kelompok marjinal, kelompok rentan, dan diksi-diksi serupa.
Seperti dikutip dari makassar.tribunnews.com (12/01/2024), penulis sepakat dengan pandangan dari seorang tokoh pendidikan Brasil, Paulo Freire bahwa pentingnya pendidikan bagi semua manusia, tanpa memandang strata sosial.
Sebab setiap manusia adalah subjek yang memiliki hak dan kebebasan untuk menentukan takdirnya.
Menarik untuk ditelaah lebih rinci dan melebarkan lensa berpikir tentang kelompok marjinal yang dimaksud.
Pasalnya, kelompok tersebut adalah kelompok yang memang tidak diakui di negeri ini.
Baik secara norma masyarakat, terlebih agama. Walau faktanya, negara seakan tidak menunjukkan tindakan tegas atas menjamurnya kelompok ini.
Bahkan terkesan ada pembiaran yang sistemik lewat akun-akun di media sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Suryani-Syahrir-ST-MT-Dosen-dan-Pemerhati-Sosial-6.jpg)