Opini
Palestina, Israel, dan Hamas
SEJARAH Palestina terlalu panjang, sebagaimana Al-Aqsha yang didirkan oleh Manusia Pertama.
Oleh: Dr Ilham Kadir MA
Penulis, Peneliti, Akademisi
SEJARAH Palestina terlalu panjang, sebagaimana Al-Aqsha yang didirkan oleh Manusia Pertama, Nabi Adam, lalu dibangun kembali Nabi Ibrahim, hingga Nabi Sulaiman.
Untuk mempersingkat, maka kita mulai pada awal abad ke-20.
Kala itu, salah satu pentolan Yahudi dan pendiri Zionis Theodor Hertzl pada bulan Mei tahun 1901 datang menawarkan dana tidak terbatas pada pemimpin terakhir Daulah Ustmaniyah, Sultan Abdul Hamid II yang negaranya sedang dililit utang dan kekuasaannya berada di ujung tanduk.
"Kami merebut Palestina dengan darah para pejuang, dan kami akan pertahankan pun dengan darah dan tidak akan menukar dan menjual dengan apa pun walau hanya satu inci. Itu tanah rakyatku, aku tidak akan pernah menjualnya.
Selama aku masih hidup permintaanmu tidak akan pernah kami terima!" Gertak Sultan Abdul Hamid pada Hertzl.
Setelah penolakan itu, maka serangkaian peristiwa terjadi untuk melemahkan posisi sultan terakhir Utsmaniyah itu yang tentu saja didalangi oleh Yahudi dan pada akhirnya, Sang Sultan benar-benar dibuat tak berdya pada tahun 1908.
Pada tahun berikutnya, 1909, kekuasaannya secara penuh lenyap, bahkan diasingkan ke Yunani, pada tahun 1912 dikembalikan ke Istambul hingga wafat pada tahun 1918, dan tahun 1924 Dinasti Utsmaniyah yang berkuasa sejak 1299, pun pupus.
Sebelum itu, tahun 1917, Inggris sudah masuk menguasai dan menjajah Palestina sekaligus menjadi laluan bebas hambatan untuk mendirikan negara Israel. Dan benar adanya, pada 14 Mei 1948, atas persetujuan Inggris sebagai penjajah, Israel berdiri.
Jadi sumbu dari api yang terus menyala dan tidak pernah padam itu, berasal dari Inggris yang tentu saja, atas pengaruh Yahudi Zionis.
Ketika berumur 19 tahun, pada 1967, Israel dikelilingi oleh negara-negara Arab yang merasa kuat, dan selalu sedia menghancurkan bangsa Yahudi, pada tahun tersebut Suriah sudah bersekutu dengan Uni Soviet.
Menteri Pertahanan Suriah, Hafez Al-Assad mencela Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser atas kepengecutannya karena menghindari konfrontasi dengan Israel yang terus berbuat onar.
Suriah pada prinsipnya menantang Bangsa Arab untuk melawan Israel.
Nasser tidak tinggal diam. Pada tanggal 17 Mei 1967, ia memulai serangkaian aksi-provokasi yang membuatnya bersekutu dengan Suriah untuk berperang melawan Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ILHAM-KADIR-24123333.jpg)