Opini
Palestina, Israel, dan Hamas
SEJARAH Palestina terlalu panjang, sebagaimana Al-Aqsha yang didirkan oleh Manusia Pertama.
Langkah awal ia melepas serarus ribu tentara ke Semenanjung Sinai, yang telah menjadi zona bebas militer sejak Perang Suez.
Keesokan harinya, ia memerintahkan agar tentara PBB meninggalkan wilayah itu, PBB patuh.
Pada tanggal 22 Mei, Nasser menutup Teluk Aqabah bagi lalu-lintas laut Israel, keesokan harinya, Israel mengumumkan bahwa tindakan penutupan Teluk Aqabah merupakan aksi agresif yang berarti menyerang kedaulatannya, perlawan Isrel tersebut mendapat dukungan penuh dari Amerika.
Pada tanggal 30 Mei, Raja Hussein dari Yordania menandatangani sebuah perjanjian militer dengan Mesir, pada waktu bersamaan tentara Irak mulai berkumpul di Yordania, semua itu dilandasi atas dasar perlawanan pada Israel.
Negara Yahudi itu, sedang dikepung oleh bangsa Arab Anti-Israel, bahkan mungkin lebih dahsyat ketika Tentara Salib dikepung oleh pasukan Salahuddin Al-Ayyubi.
Nasser sesumbar, Setiap orang bersiap untuk mati dan tidak akan menyerahkan sebutir pasir pun dari negeri ini. Inilah kehormatan terbesar bagi kita, untuk membela negeri kita.
Kita tidak akan takut pada kampanye-kampanye kaum imperialis, Zionis, atau kaum reaksioner.
Kita merdeka dan kita telah mengecap rasa kemerdekaan. Kita telah membangun tentara nasional yang kuat, dan telah mencapai tujuan kita.
Berbeda dengan Nasser yang berapi-api ingin berperang, dan seakan kemenangan di pelupuk mata. Perdana Menteri Israel waktu itu, Levi Eshkol, terlihat biasa-biasa saja, seperti kebingungan dan merendah.
Mayoritas orang Yahudi tidak yakin jika Israel dapat minimal bertahan melawan gempuran negara-negara Arab.
Mereka merasa, hanya tinggal menunggu ajal untuk dihabisi oleh Bangsa Arab.
Namun Panglima Militer Israel seperti Moshe Dayan dan Yitzhak Rabin diam-diam tersenyum dan mencibir Nasser.
Sebab selama 19 tahun terakhir sejak lahirnya negara Israel pada 1948, sudah akrab dengan retorika pemimpin negara-negara Arab seperti juga Mesir.
Ia telah berkali-kali bersumpah untuk meluluh-lantakkan negara Yahudi, memusnahkan populasi Yahudi, dan mengusir semua orang Yahudi dari Israel. Tapi hasilnya nol besar.
Akhirnya perang benar-benar meledak, terjadilah apa yang terjadi, tapi tidak sesuai pidato Presiden Mesir, Nasser, melainkan sebaliknya. Berkecamuk sejak 5-11 Juni 1967.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/ILHAM-KADIR-24123333.jpg)