Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Peta Jalan Energi Terbarukan

Transisi energi dominasi minyak bumi telah dilakukan dengan meningkatkan penggunaan batubara dan gas bumi, cukup berhasil.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/Haris Zaky Mubarak
Peneliti dan Mahasiswa Doktoral Universitas Indonesia Haris Zaky Mubarak. 

Oleh:
Haris Zaky Mubarak, MA
Peneliti dan Mahasiswa Doktoral Universitas Indonesia

TRIBUN-TIMUR.COM - Kebijakan transisi energi sejatinya berperan besar dalam meningkatkan produktivitas ekonomi secara berkelanjutan karena dalam konteks ini perubahan iklim dan transisi energi merupakan sisi yang sangat mendesak di dunia.

Pada rasionalisasi ini, salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia ataupun negara berkembang adalah menyangkut pendanaan dan transfer teknologi. Disinilah, pentingnya kolaborasi dan upaya strategis yang sangat konkrit.

Utamanya, dalam membangun koneksi sesama manusia dan alam menjadi dasar yang sangat penting untuk dapat memberikan kemajuan hidup secara berkelanjutan.

Saat memberikan kuliah umum di Stanford University, San Fransisco 15 November 2023 terkait isu transisi energi.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan tantangan pendanaan dan transfer teknologi yang dihadapi negara berkembang.

Menurut Presiden Jokowi, Indonesia saat ini telah menurunkan emisi 91,5 juta ton dan pada tahun 2022 laju deforestasi dapat ditekan sampai 104.000 hektar.

Kawasan hutan juga direhabilitasi seluas 77.000 hektar. Hutan bakau pun mampu direstorasi seluas 34.000 hektar hanya dalam waktu setahun.

Namun, yang sangat disayang menurut Presiden Jokowi di mana-mana, yang namanya investor, baik Indonesia maupun negara berkembang di dunia lainnya, mengenai pendanaan dan transfer teknologi.

Ini selalu menjadi tantangan besar karena memang kita butuh investasi besar serta transfer teknologi dan kolaborasi. Inilah yang menjadi tantangan dan sering menyulitkan negara berkembang.

Menurut Presiden Jokowi, posisi Indonesia hari ini adalah ingin memastikan transisi energi juga menghasilkan energi yang dapat terjangkau rakyat.

Namun, sampai saat ini yang namanya pendanaan iklim masih bersifat business as usualdan masih seperti commercial banks.

Padahal semestinya realisasi konkritnya harus lebih konstruktif bukan dalam bentuk utang yang hanya akan menambah beban negara miskin maupun negara berkembang.

Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam forum internasional tersebut jelas menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan transisi energi untuk masa mendatang agar jangan sampai isu strategis ini hanya berakhir pada kepentingan komersial dan bukan isu substansi yang menyentuh dimensi lingkungan secara nyata.

Desakan Kontekstual

Jika kita melihat kembali perkembangan sejarah konsumsi energi di Indonesia, era 1970-an konsumsi energi Indonesia bergantung pada BBM (bahan bakar minyak). Maka pada masa ini konsumsi energi terus meningkat, sekitar 5-6 persen/tahun.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved