Opini
Doa Ibu
Setelah akumulasi kegagalan membumbung tinggi, pada akhirnya, doa ibu berjalan seperti kompas atau sebuah pemandu.
Jodoh datang. Seorang Pegawai Negeri Sipil yang mengajar di SMP Negeri 6 Ranga, Enrekang. Kala itu, dia juga sedang mengambil S-2 di Universitas Indonesia Timur, dia minta bantuan untuk kelancaran penelitian tesisnya.
Saya pun bantu, dan menjadi wasilah untuk naik ke jenjang pernikahan, tepat di Hari Rabu, 23 November 2011 bertempat di rumahnya, KM-6 Kulinjang, kami resmi sebagai pasangan suami-istri.
Di awal 2013, saya selesai kuliah di UMI, termasuk mahasiswa terawal selesai dalam angkatan 2011, dengan tesis, "Pemikiran Pendidikan Syed Muhammad Naquib Al-Attas". Kini telah jadi buku dengan judul "Pendidikan Sebagai Ta'dib menurut Al-Attas", Pustaka Amanah: Jakarta, 2021. Ketika kuliah magister di Sekolah Pascasarjana UMI hingga selesai, tetap menjadi peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar, di bawah KH. Said Shamad. Penelitian terkait Syiah jadi fokus utama, lebih khusus tentang pikiran-pikiran Jalaluddin Rakhmat.
Kesempatan bergabung di Universitas Bosowa terbuka untuk saya. Sudah dilakukan wawancara, termasuk jumlah honor saya terima sebagai peneliti dan humas di kampus yang kini masuk jajaran 10 besar kampus terbaik di Indonesia Timur.
Sambil menunggu panggilan, saya mendaftar kuliah program doktoral di Pascasarjana UIN Alauddin, juga mencoba untuk ikut seleksi Program Beasiswa Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) yang bekerjasama dengan Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII).
Entah apa yang melupakan ingatan saya, sehingga jadual seleksi program doktoral yang tepat pada 7 Agustus 2014 saya lewatkan. Ketika tiba di kampus, para peserta ujian sudah selesai. Akhirnya, saya tidak lulus masuk kuliah doktoral di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
Ketika diminta masuk kerja di Universitas Bosowa, di minggu yang sama, saya juga dinyatakan lulus mendapatkan beasiswa Kadrisasi Seribu Ulama (KSU) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) jenjang doktoral, dan diharuskan mencari kampus sesegera mungkin. Saya pun ke Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor mendaftar, dan dites. Tesnya sama seperti biasa: menerjemahkan teks Arab dan Inggris.
Dan tidak lama kemudian, dinyatakan lulus. Dan saya pun masuk kuliah di UIKA dan tinggal di AQL, Tebet, Jakarta, sambil membantu progrm-program dakwah di lembaga tersebut. Ini berlangsung sejak 2014 hingga akhir 2015, sebab pada akhir tahun 2015, saya ikut seleksi Pimpinan BAZNAS Enrekang, dan dinyatakan lulus, pada akhirnya dilantik oleh Bapak Bupati Enrekang sebagai salah satu dari lima pimpinan BAZNAS Enrekng pada tanggal 9 Maret 2016.
Dan akhirnya, pada 27 April 2017, saya berhasil mempertahankan penelitian dalam bentuk disertasi, "Konsep Pendidikan Kader Ulama Anregurutta Muhammad As'ad Al-Bugisi (1907-1952)", di hadapan penguji, Prof. Abuddin Nata, MA., Dr. Syamsuddin Arif, MA., Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., H. Adian Husaini, Ph. D., Dr. H. Abas Mansur Tamam, MA., di Sekolah Pasca Sarjana UIKA Bogor. Saya dibimbing langsung oleh: Prof. Abuddin Nata, MA., dan Dr. Syamsuddin Arif, MA.
Berbagai rintangan dalam perjalan hidup telah saya lalui. Titik pangkalnya ketika ibu berharap dan berdoa: semoga pulang ke Makassar menyelesaikan S-1, lalu kuliah S-2 di UMI Makassar, menikah dengan PNS, dan lanjut S-3 di Jakarta.
Doa itu yang berusaha saya lawan untuk tidak terealisasi, makin dilawan makin menimbulkan masalah buat diri sendiri. Selama doa ibu belum terealisasi selama itu hidup saya dalam keadaan galau dan hampa, merasa bersalah, merana, dan selalu tanpa arah tujuan. Ada kekuatan dari doa-doa itu, tidak mampu saya lawan.
Usaha apa pun yang saya lakukan untuk mengalihkan doa ibu, yang menurut saya lebih baik dan lebih cocok buat saya, selalu berujung pada kegagalan, penderitaan, dan berakhir dengan penyesalan. Pada akhirnya, saya merasa bahwa hidup bagi saya, laksana mengumpulkan kegagalan demi kegagalan untuk mencapai kegagalan berikutnya.
Doa ibu laksana mukjizat, melemahkan semua usaha seorang anak untuk melawan doa ibunya.
Setelah akumulasi kegagalan membumbung tinggi, pada akhirnya, doa ibu berjalan seperti kompas atau sebuah pemandu. Ada kekuatan di sana, melemahkan segala rintangan.
Dan pada akhirnya, laksana air mengalir, hidup dengan panduan doa ibu, itulah jalan terbaik buat saya. Setelah saya kaji literasi filsafat kehidupan, akhirnya menemukan bahwa, Allah menetapkan takdir buat hamba-Nya namun sang hamba juga diharuskan berusaha.
Pertemuan antara ketetapan Allah dan keinginan sang hamba itulah disebut "at-taufiq", atau "taufik" dalam lisan Indonesia. Nah, doa ibu itulah yang akan menjadi sarana untuk mendapatkan taufik Allah.
Ibu yang saya, dalam kisah di atas adalah Hawa binti Soma (1947-2023) telah menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 15.10 Wita, di rumah kakak saya, Kompleks Perumahan Taman Ria Persada Blok E-10 No 10. Kel. Pasir Angin. Cilengsi. Bogor Jabar.
Rahimahallah rahmatan waasi'ah. Semoga Allah mencurahkan rahmatnya yang maha luas pada ibu saya!(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Peneliti-Penulis-dan-Akademisi-Ilham-Kadir.jpg)