Opini
Doa Ibu
Setelah akumulasi kegagalan membumbung tinggi, pada akhirnya, doa ibu berjalan seperti kompas atau sebuah pemandu.
Musibah datang. Saya terkena penyakit malaria yang mengharuskan diopname sampai dua minggu. Setelah itu, saya tidak bisa berdiri, dan akhirnya lumpuh. Teman-teman sepakat memulangkan saya ke Jakarta, di rumah keluarga di Perum Griya Bukit Jaya Gn. Putri, Bogor.
Ibu, kakak, dan adik sudah menunggu di sana. Kemudian dirawat, dan sempat diopname di RS PMI Bogor. Namun tidak ada perubahan, tetap lumpuh dan kian parah.
Lalu, saya dibawa ke pengobatan alternatif, namanya Alat Terapi Fisik Gondo (ATFG). Semacam totok saraf, jadi cara kerjanya menghidupkan saraf-saraf yang tidak atau kurang berfungsi.
Karena salah satu penyebab lumpuh adalah ketika saraf-saraf tidak berfungsi dengan baik, walau saraf mendapatkan perintah dari otak, tetap tidak bisa bergerak jika mengalami disfungsi.
Selain ditotok dengan alat khusus, pasien diharuskan mandi dengan air hangat, dan memperbanyak makan pepaya mengkal tanpa dicuci, sebab getah dalam buah pepaya membantu mereduksi toksik yang ada pada tubuh.
Terapi pada pertemuan pertama langsung ada hasil. Saya sudah bisa duduk, yang selama ini hanya berbaring dan di gotong ke WC jika ingin BAB. Pertemuan kedua minggu berikutnya, sudah langsung mampu berdiri, pertemuan ketiga pada minggu ketiga, saya sudah bisa jalan, dan akhirnya sembuh, alhamdulillah.
Setelah sembuh total dengan tiga kali terapi, sekali terapi hanya butuh bayar ke terapis 20 ribu. Dibandingkan dengan rumah sakit, tentu jauh lebih mahal dan tidak ada hasil yang memadai.
Setelah sembuh, saya kembali lagi ke Tg. Balai Karimun, mengajar, bahkan sempat silaturrahim ke Johor dan Singapura, sekitar tahun 2007. Tidak lama kemudian, ada rasa bersalah pada orang tua, terutama ibu, dan selalu ada bisikan dalam hati agar kembali menyelesaikan kuliah, di Makassar. Di saat yang sama, akan diadakan diklat dai Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) Angkatan ke-5.
Akhir tahun 2008 hingga awal 2009, selama tiga bulan, saya ikut diklat yang diadakan di kampus Ma'had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar. Sambil ikut pelatihan, saya mendapat informasi jika dekat Unismuh terdapat Sekolah Tinggi Darul Da'wah Wal Irsyad (DDI) Makassar di bawah kepemimpinan KH. Alwi Nawawi.
Saya bertanya syarat-syarat untuk bisa kuliah dengan status pindahan dari kampus lain. Pihak rektorat meminta ijazah D3, dan transkrip nilai, lalu diterima di semister 6. Kuliah pun hanya di akhir pekan.
Selama mengikuti Diklat Dai AMCF, saya juga rutin ke Perpus Daerah yang tidak jauh dari Unismuh, hanya berseberangan. Sambil melakukan riset tentang islamisasi di Sulawesi Selatan, hasilnya sudah terbit di Jurnal Islamia, "Islamisasi Sulawesi Selatan: Peran Ulama dan Raja-raja".
Jurnal ISLAMIA. Vol. II. No. 2. April 2012. Setelah selesai diklat, saya tetap di Makassar, mengajar di SMP Ittihad, Jl. Gn. Lokon, Makassar, selain bergabung di Yayasan Indonesia Bersih yang berlokasi di Jalan Andi Tonro.
Setelah setahun di Jakarta dan keliling Jawa, akhirnya pertengahan tahun 2011, saya putuskan kembali ke Makassar, ingin lanjut S2 di UIN Alauddin.
Saya pun mendaftar, namun juga mendaftar di UMI. Kedua-duanya lulus, dan pilihan saya lebih berat ke UMI karena bisa kuliah di akhir pekan, selain dosen dan akreditasi program studinya juga sama.
Saya pun bersemangat kuliah seperti biasanya, paling rajin di antara teman-teman, dan jika ada tugas, benar-benar saya tulis dengan serius. Makalah-makalah kuliah saya, beberapa saya tayangkan di website dan telah dibaca puluhan ribu kali, sebagian lainnya saya simpan untuk dijadikan buku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Peneliti-Penulis-dan-Akademisi-Ilham-Kadir.jpg)