Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Doa Ibu

Setelah akumulasi kegagalan membumbung tinggi, pada akhirnya, doa ibu berjalan seperti kompas atau sebuah pemandu.

Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi
Peneliti, Penulis, dan Akademisi Ilham Kadir. 

Semua doa dari ibu, tidak ada satu pun keinginan saya, dan tidak pernah sekalipun terlintas keinginan itu dalam benak, bahkan bagi saya, tidak masuk akal.

Sebab, saya sedang proses penyelesaian sarjana muda (D3) di Kampus Kolej Islam Al-Ihsaniyah Pulau Pinang, karena ada masalah visa di Kampus MARSAH, Johor. Kampus ini merupakan twins program dengan Universitas Al-Azhar Mesir.

Jadi setiap mahasiswa yang lulus Kolej Al-Ihsaniyah langsung namanya terdaftar di Al-Azhar Mesir, termasuk saya yang telah terdaftar di kampus Al-Azhar Tanta, Mesir. Di sana cukup kuliah 2 semister sudah selesai S-1, yang gelarnya, (Lc.) merujuk ke Francis.

Keinginan saya, jika selesai S-1 akan lanjut sampai S-3 di sana, atau lanjut di International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC-IIUM), Malaysia.

Jika menikah akan kesulitan dengan PNS karena rencananya, tetap jadi dosen di Malaysia, paling tidak di Jakarta.

Setelah selesai semua persyaratan yang ditetapkan kampus, akhirnya bulan September 2005, kami berangkat dari Malaysia ke Mesir, terbang dari KLIA ke Kairo dengan menggunakan Qatar Airlines, dari KLIA transit di Bandara Internasional Qatar selama 24 jam, jadi sempat di antar ke hotel dan keliling-keliling sekitar kota Qatar. Lalu kembali terbang ke Mesir.

Sesampainya di Bandara Internasional Kairo, saya tidak dibolekan melewati chekpoint karena tidak memiliki visa. Akhirnya diantar ke ruang tunggu, di sana, menunggu selama 24 jam untuk dideportasi ke Kuala Lumpur dengan pesawat yang sama, Qatar Airlines.

Kesalahan terletak pada pihak kampus yang mengurus keberangkatan saya. Memahami bahwa status Indonesia dan Malaysia sama di hadapan imigrasi Mesir. Dapat berkunjung langsung tanpa dengan visa. Katanya, "Visa nanti diurus di Mesir, langsung berangkat saja, tiket sudan kami belikan,".

Ternyata, warga Indonesia jika hendak ke Mesir terlebih dulu harus punya visa, karena saya tidak memiliki visa untuk masuk Mesir, akhirnya, dideportasi. Padahal teman-teman yang lebih dulu kuliah di Al-Azhar sudah datang ke Bandara Kairo untuk menjemput saya.

Akhirnya, kembali ke Kuala Lumpur, langsung ke Johor. Bahkan bagasi saya, dibawa oleh teman-teman masuk ke Mesir, hingga sekarang tidak pernah tau dimana rimbanya, konon dikirim kembali ke Malaysia, di rumah teman daerah Bukit Ceraka Klang, Selangor.

Dari Johor menyeberang ke Tanjung Balai Karimun. Di sana saya dan teman-teman mengembangkan Pondok Pesantren Al-Qur'an, di bawah naungan DPD Hidayatullah, Tg. Balai Karimun, Kepulauan Riau yang sudah saya rintis sejak tahun 2002.

Sebagai salah satu Pimpinan Pondok, saya beraktivitas seperti biasa, mengajar, mengasuh para santri, mengurus segala hal yang terkait dengan pondok. Selain menggencarkan silaturrahim dengan berbagai elemen, dari RT hingga Bupati.

Kala itu dijabat oleh Muhammad Sani, lalu digantikan dengan Nurdin Basirun. Walau saya di Karimun, namun tetap berkomunikasi dengan pihak kampus Kolej Al-Ihsaniyah Pinang, Malaysia.

Mencari solusi yang terbaik, setidaknya ada ijazah tanda lulus D3. Ternyata, Kolej Al-Ihsaniyah juga sudah menjalin kerjasama dengan IAIN Sultan Thaha Saefuddin, Jambi.

Saya pun mendapat ijazah dan transkrip nilai yang bisa digunakan untuk melanjutkan studi S-1 di IAIN Jambi atau kampus-kampus lainnya yang setara dengan IAIN di seluruh Indonesia, cukup dengan kuliah 3 semester.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved