Opini
Catatan Pelantikan PP Sulsel: Menegaskan Abadi, Mengantar Menuju Keabadian
Ratusan bahkan ribuan orang berkumpul penuh hikmat dalam sebuah acara pelantikan Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sulawesi Selatan
oleh
Anshar Aminullah
(Wakil Ketua Dewan Pakar Pemuda Pancasila Sulsel)
TRIBUN-TIMUR.COM - Mengapa optimisme kita harus tetap terjaga terhadap keutuhan bangsa ini?
Salah satu alasan yang pas menurut hemat saya adalah, bahwa bangsa ini tak pernah kekurangan anak bangsa yang selalu menjaga marwah Pancasila dalam spirit berorganisasinya.
Tepat 15 Juli 2023 di sebuah tempat ikonik di Makassar.
Ratusan bahkan ribuan orang berkumpul penuh hikmat dalam sebuah acara pelantikan Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sulawesi Selatan.
Mereka diikat dalam sebuah ikatan kekeluargaan yang kuat. Tak sedikit diantaranya mungkin adalah rakyat kecil yang mungkin tidak memiliki sandangan sosial yang bisa dibanggakan di depan pandangan dunia.
Sinergitas mereka dalam pelantikan ini seolah ingin menegaskan bahwa mereka juga punya peranan dalam kehidupan bermasyarakat, berumat, bernegara, apalagi berglobalisasi. Ikatan kebersamaan di Pemuda Pancasila ini telah membantu mereka menemukan bahwa diri mereka kini "bermanfaat bagi bangsa dan negara ini".
Bahkan, dalam konteks yang lebih besar yakni pada peta Indonesia, baik dalam konteks formal, di keilmuan, pada kultural, atau di keagamaan, mereka telah beralamat, dan mereka bukan hanya penduduk anonim di sebuah RT yang terselip di ketiak zaman.
Mereka didominasi anak muda yang berstatus sebagai warga negara yang menjadikan tindakan kolektif mereka sebagai titik berangkat lalu kemudian mengembangkannya menjadi sebuah tipologi yang komprehensif bentuk-bentuknya, mulai dari dinamika kecil di internal organisasi hingga pada pengaturan diri dan diskursus ideal demokratik bangsa ini.
Dalam perjalanan kelembagaan Pemuda Pancasila di Sulsel ini, pada pendekatan analisis sosiologis berpusat kepada bentuk-bentuk pemrosesan kolektif terhadap hasil- hasil yang dikehendaki dan tidak dikehendaki dari tindakan kelembagaan yang tetap mengacu pada konstitusi dan regulasi-regulasi normatif. Ini yang membuat salah satu Ormas tertua di Indonesia ini mampu menghadapi konflik-konflik, khususnya yang bersifat normatif.
Semangat Pataka di ujung Duka
Momen pelantikan ini, terselip sebuah peristiwa yang mungkin akan selalu dicatat dan diingat setiap generasi dalam perjalanan organisasi ini dimasa mendatang. Peristiwa ini menggambarkan bahwa tak ada yang lebih sulit untuk ditaklukkan seorang St Diza Rasyid Ali saat berkecamuknya pergolakan bathinnya terhadap apa yang harus dia dahulukan malam itu, melanjutkan pengucapan janji setia mengibarkan pataka dan yang paling utama untuk tetap menjaga spirit dan emosional para pengurus dan ribuan kader yang menyatu dalam janji setia kelembagaan itu.
Sementara disaat bersamaan sahabatnya sedang tergeletak menanti saat-saat terakhir kebersamaannya dengan semua saudara-saudaranya di Pemuda Pancasila.
Ketua MPW Sulsel itu tetap berupaya tegap dan menjaga kestabilan emosionalnya. Ibarat sedang berada dalam medan perang, jika tak mampu melakukan dua hal tersebut, maka seluruh pasukan yang dia pimpin bisa dirampas semangatnya, dan komandannya berstatus kehilangan kewarasannya.
Dalam kondisi dilematis ini, St Diza Rasyid Ali menjelma sebagai seorang komandan yang cerdas yang paham seni mengutamakan suasana hati dan seni menguasai diri. Memang ilmu menguasai diri ini kadang tak berbanding dengan Kesarjanaan dan kedoktoran dan keprofesoran seseorang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/OPP.jpg)