Opini
Sukseskan Toraja Utara Bebas DBD
Curah hujan yang berlebih dapat mengakibatkan banjir dan genangan air di jalan, yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Toraja Utara tentang jumlah penduduk dari tahun 2018-2022 meningkat dua kali lipat, dengan total penduduk berturut-turut sebanyak 115.086 dan 232.394 jiwa yang di dominasi penduduk berusia 0-24 tahun (tingkat aktivitas di luar rumah cenderung lebih tinggi).
Pendataan berkala sangat berguna untuk memantau perkembangan dan distribusi penyakit tular vektor sehingga dibutuhkan kekompakan kerjasama antara masyarakat dan departemen kesehatan dengan tujuan untuk mendeteksi dini insidensi kesakitan, pemerintah setempat dapat membuat website ataupun aplikasi agar dapat diakses masyarakat dan melaporkan pasien yang terjangkit DBD.
Kegiatan evaluasi mengenai penyuluhan harus diperluas sehingga masyarakat lebih bermawas diri untuk menerapkan upaya pencegahan penyakit tular vektor.
Penyakit tular vektor yang ada di kab. Toraja Utara yaitu DBD dan malaria. Kasus DBD lebih tinggi dibanding kasus malaria akan tetapi, keduanya tetap perlu diwaspadai karena tingginya angka imigrasi penduduk Toraja dan Papua.
Dalam hal tersebut pemerintah pusat di provinsi Sulawesi Selaran baru baru ini sudah mengambil langkah pencegahan penularan melalui perpindahan penduduk tersebut dengan bantuan kerjasama oleh dinas perhubungan untuk mengumpulkan data penduduk yang memiliki riwayat atau sedang terjangkit yang masuk dan
keluar dari tiap kabupaten.
Berdasarkan hasil penelitian pada tahun 2019 yang dilakukan oleh Ranteallo, dkk., penyuluhan pada salah satu kecamatan yang tidak jauh dari pusat kabupaten melaporkan bahwa upaya pencegahan DBD yang dilakukan masyarakat sebelum penyuluhan sebesar 86,2 persen dari total penduduk kecamatan Sa’dan.
Lingkungan tempat tinggal masyarakat pedesaan cenderung banyak yang berprofesi sebagai peternak, lokasi kandang ternak tersebut juga dibangun tidak jauh dari rumah tinggal.
Hal tersebut menunjukkan kurang siapnya masyarakat menghadapi epidemi karena kurangnya pemahaman tentang upaya pencegahan DBD itu sendiri.
Untuk kapasitas kesehatan yang difasilitasi oleh pemerintah cukup memadai akan tetapi tidak ada perkembangan sehingga perlu dilakukan upaya lebih untuk menangani kasus DBD.
Insidensi kasus DBD yang terjadi umumnya menyerang penduduk yang memiliki aktivitas yang tinggi di luar rumah.
Tingkat sanitasi lingkungan rumah dan tempat umum cenderung rendah terlebih di area pemukiman yang padat penduduk sehingga kegiatan fogging yang rutin serta kegiatan jumat bersih belum mampu membantu mengatasi permasalahan tersebut karena sudah seperti menjadi kegiatan rutin saja sehingga menjadikan penyakit tular vektor semakin lama akan menjadi sulit ditangani.
Menurut Pranowo (2011), telur nyamuk Aedes aegypti memiliki durabilitas yang tinggi di mana, telur fertil dapat bertahan hingga bertahun-tahun serta memiliki daya lekat pada bejana sehingga menyebabkan infeksi virus DBD sulit dikendalikan.
Faktor utama perilaku manusia yang rentan terinfeksi melalui gigitan nyamuk yaitu tidur tanpa menggunakan kelambu dan tidak menerapkan 3M (Menutup, menguras, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air serta kebiasaan menggantung pakaian.
Berikut Langkah pencegahan yang dapat diupayakan yaitu melakukan Gerakan 3M; (1) Menggunakan obat pembunuh larva (larvasida) seperti abate atau altosid, (2) Memasang kawat anti nyamuk pada ventilasi rumah, (3) Pencahayaan kamar yang cukup, (4) Tidak menggantung pakaian dalam keadaan bertumpuk.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.