Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kebangkitan Nasional dan Lara Hati di Proyek BTS

Berdarah Bugis dan Makassar keturunan dari Daeng Karaeng Nobo seorang bangsawan asal Makassar.

Tayang:
Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Mahasiswa Doktoral Sosiologi UI, Anshar Aminullah 

Lara Hati di Sinyal 4G

 Kita bisa bayangkan, bagaimana lara hati dr. Wahidin Sudirohusodo bersama 9 tokoh pendiri Budi Utomo jika seandainya masih hidup dan menonton televisi, Youtube serta membaca berita penangkapan salah satu menteri di republik ini atas dugaan korupsi proyek penyediaan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) 4G ini.

Dalam benak beliau mungkin tersirat namun mendalam bagaimana nominal 8 triliun jika seandainya dipakai untuk melanjutkan spirit pergerakan Budi Utomo bagi bangsa ini hasilnya pasti tak main-main.

Putra-putri ibu pertiwi akan melaju lebih gesit lagi menuju masa depan, dan yang pasti, aset sumber daya manusia kita yang menguasai teknologi Artificial Intelligence serta kemampuan merancang aplikasi saingan dari Chat GPT akan mampu dilakukan dengan baik pengembangannya oleh anak negeri. Bukan tak mungkin ratusan Wahidin Sudirohusodo muda akan mampu dicetak oleh bangsa ini.

Atau bahkan ribuan anak muda sekelas 9 orang pendiri Budi Utomo akan lahir dan hadir jika seandainya uang dari skandal Rp 300 triliun digunakan untuk kebaikan bangsa ini. 

Mungkin saja tindakan JGP ini bukanlah sejenis tindakan yang menyebar sebagai hasil dari impuls-impuls terprogram.

Namun andai saja, pengawasan refleksif pihak terkait terhadap apa yang seharusnya dikerjakan oleh oknum ini sebagai bagian intrinsik dari apa yang ada dan itulah yang harus mereka kerjakan, maka kejadian yang mengakibatkan kerugian negara ini mungkin bisa terhindarkan. 

Perihal benar ataupun salahnya dugaan korupsi yang menimpa JGP ini biarlah waktu yang menjawabnya, kita hanya perlu mengambil banyak pelajaran bernama hikmah di dalamnya.

Namun yang pasti, sampai kapan pun dalam perjalanan bangsa ini, gagasan mengenai kemajuan bangsa oleh Budi Utomo tetap saja akan selalu memiliki para 'penghambat' setianya bernama koruptor. 

Tidaklah keliru jika kita menganggap kelompok para koruptor ini memiliki perspektif yang naif terhadap ide kemajuan, dan asa besar dr Soetomo, dkk terhadap Indonesia. 

Dan mereka adalah para oknum yang selalu pesimis bin putus asa dengan gelimang harta titipan Tuhan yang selalu saja dirasa tak cukup memenuhi kebutuhan hedonis mereka. 

Para penguras kekayaan negara ini mungkin setiap tahunnya memperingati Hari Kebangkitan Nasional namun tak pernah berupaya sadar memperingatkan diri hari kebangkitan di Padang Mahsyar. 


115 Tahun Hari Kebangkitan Nasional!

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved