Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

AAS, Inspirasi Kaum Muda Indonesia

Seorang menteri Presiden Jokowi di periode pertamanya yang sedang berbicara menjelaskan tentang kondisi pangan dan berbagai hal bertemakan pertanian

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
Anshar Aminullah 

Meskipun dalam proses perjalanan menjalani kehidupan ini, kita juga tetap butuh tempat untuk mencari inspirasi kehidupan dan belajar banyak tentang bagaimana menjalani dinamika hidup, sebuah tempat belajar non formal bernama "Institusi kehidupan" yang hadir diantara kelas-kelas pendidikan formal pada sekolah dan kampus.   

Dan salah satu 'institusi' kehidupan itu adalah kisah kehidupan Andi Amran Sulaiman perihal bagaimana dia bergelut dan berdinamika dengan kerasnya kehidupan ekonomi masyarakat kelas menegah kebawah yang mengantarkannya hingga ke titik sekarang ini. 

Penggalan kisah seorang Amran kecil diusia 9 tahun, yang harus membanting tulang dengan bekerja memecah batu gunung lalu kemudian dia jual kepada pemilik proyek yang masih memiliki iba untuk membelinya.

Dengan hasil itu setidaknya bisa membantu menyambung hidup bagi keluarganya.

Bagi Andi Amran Sulaiman kecil, saat itu telah berada pada sikap tawakkal, perihal garis takdir Tuhan yang telah memberi kepercayaan sepenuhnya kepada manusia, serta percaya kepada 'iktikad' Tuhan untuk kebaikan hambaNya, dimana 'itikad' itu sudah disertai bonus berbagai perangkat penunjang agar kita tidak tertinggal, tidak terbelakang, tidak inferior, atau menjadi orang buangan yang digilas dan tersingkirkan dari peradaban di bumi.

Jika memiliki waktu senggang, cobalah sempatkan tatap seksama sorot mata seorang AAS, entah itu di televisi, Youtube, ataupun jika beruntung saat dapat bersua langsung dengannya.

Sorot mata itu dengan jelas menegaskan bagaimana dibalik kedermawanannya kepada banyak orang, itu bukan hanya sinyalemen kebaikan tulus semata dan atau cerminan dari harta lebih yang dimilikinya sekarang ini.

Namun binar matanya yang tegas menatap, itu juga merupakan simbolik perihal bagaimana kemampuan istiqomahnya dalam menjaga hikmah kehidupan dari perjuangan masa lalunya.
 
Hidup tanpa harta yang cukup andai menjadi sebagai sebuah pilihan hidup, pasti siapapun akan menghindari memilihnya.

Dan terlahir dari keluarga veteran yang tak bisa berharap banyak dengan uang pensiunan nominal Rp 100 ribu per bulan dari seorang ayah yang berusaha menghidupi seorang istri dan 12 orang anaknya, telah menjadi sebuah takdir yang ikhlas diterima dan telah mampu dijalani oleh keluarga Andi Amran Sulaiman dimasa lalu. 

Mungkin hari ini secara sosial-politik khalayak melihatnya sebagai "Mutiara dari Timur", seseorang yang masih teguh memegang prinsip "kita boleh saja terlahir miskin, namun jangan sampai kita juga mati sebagai orang 'miskin'.

Tetapi kelak, di masa depan, khalayak akan selalu mengenangnya sebagai figur yang akan selalu menginspirasi kaum muda Indonesia agar selalu merawat mimpi-mimpinya ditengah segala keterbatasan yang dimiliki.

Dan kelak, dia juga akan selalu dikenang sepanjang waktu, dimana spirit peninggalannya akan hadir untuk menegaskan kepada setiap kaum muda yang nyaris menyerah saat berada di tempat sulit dan segala sesuatu menentangnya, saat kondisi membuatnya merasa tidak akan mampu bertahan lebih dari semenit lagi, saat itu, semangat seorang Amran Sulaiman kecil akan hadir agar jangan pernah menyerah, karena justru itulah tempat dari waktu ketika gelombang akan berbalik.

55 Tahun AAS! tetaplah menjadi figur yang menginspirasi bagi kami para generasi muda dan anak bangsa.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved