Opini
Literasi Berawal dari Diksi, Berakhir pada Aksi
Tidak perlu muluk-muluk dalam mengembangkan literasi, mulailah dari keluarga sendiri.
Berawal dari mencermati tata ruang Kota Makassar yang banyak memiliki lorong, muncullah gagasan untuk membuat perpustakaan di lorong-lorong Kota Makassar.
Perpustakaan lorong, ide yang telah terjewantah dalam aksi nyata, membuat penulis mendapat banyak sorotan.
Dalam pikiran saya ada keinginan besar keinginan mengikuti jejak John Wood. Seorang tokoh literasi dunia yang punya sekitar 7.000 perpustakaan.
Selain disuguhi oleh gagasan-gagasan segar, pikiran penulis tentang Parenting Literasi seperti sedang membaca catatan perjalanan seorang pejuang literasi.
Penulis mengajak kita bersafari dari satu forum literasi ke forum yang lain. Dari “safari literasi” itu, penulis mengajak kita bertemu dengan berbagai tokoh pendukung literasi.
Juga beragam organisasi yang punya komitmen terhadap pengembangan literasi.
Karena itu, parenting literasi cocok diasup oleh mereka yang punya rencana sama dengan penulis, menjadi pengabdi di dunia literasi.
Banyak aksi nyata yang bisa dilakukan. Atau bagi mereka yang hampir kehabisan asa dalam memasyarakatkan literasi.
Dengan ide-ide kreatif yang sederhana, penulis berhasil menggambarkan dan membuktikan bahwa perjuangan literasi sesuatu yang sungguh realistis.
Mulailah dari Aksi dan berakhir pada Aksi. Itulah esensi filosofis literasi, bukan hanya dibicarakan dari forum ke forum, tapi aksi nyatanya nol.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Bachtiar-Adnan-Kusuma-Ketua-Forum-Nasional-Penerima-Penghargaan-Tertinggi-NJDP-Perpustakaan.jpg)