Opini
Literasi Berawal dari Diksi, Berakhir pada Aksi
Tidak perlu muluk-muluk dalam mengembangkan literasi, mulailah dari keluarga sendiri.
Oleh:
Bachtiar Adnan Kusuma
Ketua Forum Nasional Penerima Penghargaan Tertinggi NJDP Perpustakaan Nasional RI
TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa waktu lalu, penulis diundang Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, melalui Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional, Dr. Adin Bondar, M.Si.
Dalam diskusi santai diselingi tawa dan canda di Salemba Raya, Jakarta Pusat, kami berdua sepakat kalau apapun bentuknya, literasi haruslah dimulai dari Diksi dan berakhir pada Aksi.
Literasi Berawal Dari Diksi, Berakhir Pada Aksi, itulah judul Buku Karya Dr. Adin Bondar.
Maksudnya, menggagas gerakan membaca dan gerakan menulis tidak lengkap kalau tidak ditutup dengan aksi nyata. Itulah literasi dalam perspektif penulis dan Dr. Adin Bondar.
Pada sisi lain, kami juga berdiskusi tentang pentingnya Parenting Literasi yang penulis maksudkan mengurus pengembangan literasi adalah mengurusi sebuah mega proyek.
Membangun literasi sejatinya membangun peradaban. Meskipun begitu, mulailah dari hal yang sederhana. Jangan berfokus pada akhir perjuangan literasi, bagaikan istana megah yang sulit dibangun.
Pandanglah literasi seperti keping-keping kecil batu pualam yang menyusunnya. Pada kepingan mana kita mau memberi sumbangsih.
Tidak perlu muluk-muluk dalam mengembangkan literasi, mulailah dari keluarga sendiri. Itu semangat yang berusaha saya gariskan dalam gerakan dan pengabdian saya sebagai pegiat literasi Indonesia.
Yang paling penting, bagaimana membangun mindset masyarakat, pentingnya literasi sebagai kebutuhan pokok.
Sebab hanya dengan memandang literasi sebagai kebutuhan pokok, maka masyarakat menempatkan membaca sebagai budaya kolosal yang sangat penting.
Pertanyaannya, apa benar membaca sebagai kebutuhan pokok? Hemat penulis, membaca bagi masyarakat moderen adalah kebutuhan pokok.
Selain masyarakat kita berada pada posisi dunia ketiga kata Alvin Toffler, yaitu masyarakat industri berciri masyarakatnya menempatkan informasi sebagai kebutuhan utama.
Nah, membaca sebagai kebutuhan pokok, sejurus dengan Teori Kebutuhan Abraham Masloy, menempatkan enam tingkatan kebutuhan manusia.
Salah satunya, kebutuhan aktualisasi diri yaitu manusia butuh pengakuan akan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.
Salah satu caranya untuk memeroleh pengakuan masyarakat dengan menjadikan membaca sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidup manusia.
Karena hanya masyarakat yang memiliki budaya baca tinggi akan mampu mengartikulasi informasi menjadi sesuatu yang sangat produktif.
Manusia informasi akan menjadi manusia kaya karena memiliki horison wawasan yang luas karena membaca buku.
Selain teori Culture Study yang menegaskan kalau budaya membaca haruslah dimulai dari pembiasaan secara terus menerus yang dilakukan sejak dini.
Sebenarnya, membentuk keluarga berbudaya baca tinggi, tidak sulit. Kuncinya, pembiasaan membaca harus dimulai dari sejak anak-anak dalam kandungan ibunya, hingga lahir dan tumbuh berkembang dalam keluarganya.
Disinilah posisi penting literasi menjadi besutan utama bagi anak-anak kita.
Benarkah, aksi literasi haruslah dimulai dari keluarga? Ekosistem literasi hanya bisa tumbuh dengan baik, jika ibu-ibu ikut terlibat total di dalamnya.
Budaya literasi tumbuh subur, asal saja dimulai dari setiap keluarga. Selain karena keluarga adalah sarana efektif membentuk ekosistem literasi, juga keluarga memegang peranan penting terutama membentuk masyarakat Indonesia yang melek literasi.
Tak ada masyarakat yang gemar membaca yang baik, jika tidak dimulai dari keluarga. Dan, Indonesia membaca akan terwujud jika bermula dari keluarga membaca.
Karena itu, setiap keluarga dan tokoh-tokoh masyarakat sangatlah strategis ikut serta melakukan kampanye membaca di berbagai daerah.
Selain amanah Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakan Pasal 1 Ayat 11 “ Masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang, atau lembaga yang berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perpustakaan”.
Sementara Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Sistem Perbukuan Nasional pasal 1 Ayat 4 menyebutkan” Literasi adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidupnya.
Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2021 tentang Akademi Literasi pasal 5 bagian d menyebutkan bunda Baca/literasi adalah bagian dari pegiat literasi.
Sebenarnya semangat literasi, hari ini menggema di mana-mana. Dari tempat terpencil dengan segala keterbatasannya, sampai kota besar yang segalanya ada.
Tersebar pejuang literasi dengan masing-masing gayanya, menjaga gema semangat literasi, agar selalu ada.
Bahkan semakin nyaring terdengar. Semua itu tentu berasal dari kerja berbagai pihak.
Ada banyak komunitas literasi yang berjuang tanpa letih, juga tiada mengenal pamrih. Betul-betul bekerja hanya untuk mengabdi. Didukung dengan berbagai program pemerintah yang mendukung literasi.
Bermula dari yang Sederhana
Energi literasi sudah menyala, tugas selanjutnya adalah menjaganya agar tetap berkobar. Caranya? Mulailah dari hal-hal kecil.
Tularkan energi literasi pada orang-orang terdekat. Itulah yang penulis ditawarkan bahwa penggiat literasi tugas utamanya bekerja ikhlas, tanpa pamrih dan tanpa berharap imbalan penghargaan ataupun penghormatan.
Keluarga melek literasi yang penulis maksudkan mengurus pengembangan literasi adalah mengurusi sebuah mega proyek.
Membangun literasi sejatinya membangun peradaban. Meskipun begitu, mulailah dari hal yang sederhana. Jangan berfokus pada akhir perjuangan literasi, bagaikan istana megah yang sulit dibangun.
Pandanglah literasi seperti keping-keping kecil batu pualam yang menyusunnya. Pada kepingan mana kita mau memberi sumbangsih.
Tidak perlu muluk-muluk dalam mengembangkan literasi, mulailah dari keluarga sendiri. Itu semangat yang berusaha saya gariskan dalam gerakan dan pengabdian saya sebagai pegiat literasi.
Keluarga memang menjadi unit terkecil dalam masyarakat. Bukan karena dia unit terkecil, maka kecil pula pengaruhnya.
Persoalan sosial yang ada di masyarakat, biasanya berawal dari tatanan keluarga yang rapuh. Juga sebaliknya, keadaan masyarakat harmonis, pasti lahir dari keluarga nan tentram.
Jika ingin memajukan literasi di tengah masyarakat, mulailah dari unit terkecil: keluarga. Penulis dengan berbagai pengalaman lapangan dan pengalaman akademi literasi nasional, menggambarkan tentang potret keluarga yang berliterasi.
Selain dipenuhi perabotan rumah, ruang-ruang keluarga juga dipenuhi jejeran buku beraneka tema. Anak-anak tidak hanya sibuk dengan gawai, tapi mereka lebih antusias membalik-balik lembar buku.
Dua Pembahasan
Dari sekian banyak ide-ide segar pengembangan literasi yang penulis gagas, salah satu yang paling inovatif adalah perpustakaan lorong.
Berawal dari mencermati tata ruang Kota Makassar yang banyak memiliki lorong, muncullah gagasan untuk membuat perpustakaan di lorong-lorong Kota Makassar.
Perpustakaan lorong, ide yang telah terjewantah dalam aksi nyata, membuat penulis mendapat banyak sorotan.
Dalam pikiran saya ada keinginan besar keinginan mengikuti jejak John Wood. Seorang tokoh literasi dunia yang punya sekitar 7.000 perpustakaan.
Selain disuguhi oleh gagasan-gagasan segar, pikiran penulis tentang Parenting Literasi seperti sedang membaca catatan perjalanan seorang pejuang literasi.
Penulis mengajak kita bersafari dari satu forum literasi ke forum yang lain. Dari “safari literasi” itu, penulis mengajak kita bertemu dengan berbagai tokoh pendukung literasi.
Juga beragam organisasi yang punya komitmen terhadap pengembangan literasi.
Karena itu, parenting literasi cocok diasup oleh mereka yang punya rencana sama dengan penulis, menjadi pengabdi di dunia literasi.
Banyak aksi nyata yang bisa dilakukan. Atau bagi mereka yang hampir kehabisan asa dalam memasyarakatkan literasi.
Dengan ide-ide kreatif yang sederhana, penulis berhasil menggambarkan dan membuktikan bahwa perjuangan literasi sesuatu yang sungguh realistis.
Mulailah dari Aksi dan berakhir pada Aksi. Itulah esensi filosofis literasi, bukan hanya dibicarakan dari forum ke forum, tapi aksi nyatanya nol.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Bachtiar-Adnan-Kusuma-Ketua-Forum-Nasional-Penerima-Penghargaan-Tertinggi-NJDP-Perpustakaan.jpg)