Opini
Ramadan dan Tradisi Kenaikan Harga
Fenomena kenaikan harga ini tentu tidak bisa dianggap kondisi biasa, apalagi lonjakan harga pangan menjelang Ramadan terus berulang.
Oleh:
Tolawati Ummu Athiyah
Pemerhati Masalah Sosial Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Marhaban Yaa Ramadan. Ramadan sudah di depan mata. Selayaknya setiap muslim menyambut bulan suci dengan sukacita. Karena di bulan ini, Allah Swt memberikan kesempatan kepada hamba-Nya yang beriman untuk melipatgandakan pahala.
Namun, menjelang Ramadan juga ada hal yang menyedihkan, yaitu tradisi kenaikan harga-harga barang khususnya bahan pangan.
Beberapa komoditi terpantau mengalami kenaikan harga di beberapa daerah. Misal kenaikan harga beras di Palopo dan harga cabai di Selayar naik dua kali lipat. Di pasar-pasar tradisional Kota Makassar juga menunjukkan kenaikan harga untuk bawang putih, cabai, dan telur ayam.
Gejolak harga di sejumlah pasar menjelang masuknya bulan Ramadan memang menjadi tren tahunan. Hal ini disebabkan adanya sejumlah kegiatan di masyarakat yang mengakibatkan banyaknya permintaan sementara dari sisi stok atau persediaan cenderung tetap.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Makassar, Arlin Ariesta, mengatakan pihaknya telah memantau harga-harga bahan kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional. Namun dia memastikan bahwa stok pangan tetap aman meski ada kenaikan harga (sulsel.idntimes.com,10/03/23).
Pernyataan dari Kepala Disdag tersebut tentu belum memuaskan publik. Karena masalah kenaikan hargalah yang sebenarnya dirisaukan masyarakat.
Fakta yang tidak bisa diabaikan adalah kondisi masyarakat yang semakin tertekan karena beban hidup yang bertambah dengan adanya lonjakan harga makanan pokok. Apalagi bagi kalangan masyarakat miskin dan berpenghasilan sangat minim, kenaikan harga pangan akan menambah penderitaan mereka.
Minim Antisipasi
Fenomena kenaikan harga ini tentu tidak bisa dianggap kondisi biasa, apalagi lonjakan harga pangan menjelang Ramadan terus berulang.
Padahal dengan memperhatikan tren peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan hari besar keagamaan lainnya, pemerintah sudah bisa memprediksi dan mengambil langkah antisipasi sehingga stok tetap mencukupi dengan harga yang terjangkau.
Terlebih lagi Indonesia merupakan negeri agraris yang notabene melimpah sumber pangan.
Sehingga tentu tidak wajar jika persediaan pangan minim hingga menimbulkan gejolak harga di pasaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Tolawati-Ummu-Athiyah-Pemerhati-Masalah-Sosial-Makassar-bb.jpg)