Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Remaja Mendadak Nikah, Ada Apa?

Belum lepas sorotan publik terkait tingginya angka permintaan dispensasi nikah di Pengadilan Agama.

Editor: Sudirman
Tolawati Ummu Athiyah
Tolawati Ummu Athiyah Pemerhati Masalah Sosial Makassar 

Kasus semisal pasangan bocah di Bantaeng bukanlah kali pertama terjadi. Pernikahan usia muda sudah lumrah dilakukan masyarakat sejak dulu.

Faktor adat, masalah ekonomi, kekhawatiran berbuat zina, hingga hamil duluan, menjadi beberapa alasan orang tua bersegera menikahkan anak-anak mereka.

Jadi meskipun pemerintah menaikkan batas usia syarat nikah, hal itu tidak akan berpengaruh signifikan mengurangi jumlah kasus perkawinan anak.

Perilaku bebas remaja saat ini memang tidak lepas dari pengaruh paham kebebasan (liberalisme-sekuler) yang mengakar kuat di alam demokrasi.

Generasi muda terjebak gaya hidup permissif (serba bebas) dan hedon (mengejar kesenangan), termasuk pergaulan bebas yang memicu seks bebas dan hamil di luar nikah.

Siap tidak siap akhirnya nikah dini menjadi opsi sebagai solusi.

Maka, dampak negatif jangka panjang dari perkawinan anak seperti yang dikemukakan kemenPPPA seperti masalah kesehatan reproduksi perempuan dan stunting, bisa saja terjadi.

Padahal, bukan nikah dini yang berbahaya, melainkan liberalisme sekuler serta induk semangnya, yaitu ideologi kapitalismelah yang sangat berbahaya, yang telah salah asuh dan
menjerumuskan generasi.

Oleh karena itu, perlu koreksi terhadap berbagai kebijakan yang terlahir dari rahim kapitalisme.

Terbukti kapitalisme gagal paham terhadap fakta dan akar masalah serta kebijakan pragmatisnya justru memunculkan masalah baru.

Dispensasi nikah akan tetap tinggi karena faktor pergaulan bebas. Begitu pun pergaulan bebas dan segala efeknya juga akan tetap ada karena kapitalisme liberallah pendukung utamanya.

Untuk menyelesaikan masalah perkawinan anak dan dispensasi nikah tidak akan cukup dengan penyuluhan dan edukasi dampak negatif dari nikah dini.

Bukan kebijakan pragmatis dan solusi parsial yang bisa mengatasinya, karena begitu kompleksnya faktor penyebab masalah tersebut.

Akan tetapi, butuh solusi sistemis hingga masalah bisa diselesaikan dari akarnya.

Islam Solusi Sistemis

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved